Tren "Mindfulness" vs Realitas Sosial & Privilege Mental Illness

Ada masa ketika kesehatan mental dibicarakan sebagai sesuatu yang hampir sepenuhnya personal. Ketika seseorang cemas, ia diminta mengatur pikirannya. Ketika lelah, ia disarankan beristirahat. Ketika kewalahan oleh berita buruk, ia diminta mengambil jeda. Belakangan, salah satu kata yang paling sering muncul dalam percakapan tersebut adalah mindfulness.
Mindfulness menjadi populer sebagai cara untuk kembali ke saat ini, menyadari pikiran dan emosi tanpa menghakiminya, serta memberi jarak dari tekanan yang sedang dialami. Secara ilmiah, konsep ini memang memiliki dasar yang kuat. Mindfulness tidak sekadar berarti "berpikir positif", melainkan berkaitan dengan perhatian terhadap pengalaman saat ini secara terbuka dan tidak menghakimi (Kabat-Zinn, 2003; Kraines et al., 2020). Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan bahwa intervensi berbasis mindfulness dapat memberikan manfaat terhadap berbagai aspek kesehatan mental, meskipun besarnya manfaat bergantung pada jenis intervensi, populasi, dan konteksnya (Linardon et al., 2024).
Masalahnya muncul ketika mindfulness diperlakukan seolah-olah merupakan jawaban universal atas persoalan psikologis manusia. Kontroversi mengenai konten Maudy Ayunda berjudul "Mindfulness in the Age of Bad News" memperlihatkan persoalan tersebut dengan sangat jelas. Video yang diunggah pada 21 Agustus 2026 itu berangkat dari pengalaman Maudy menghadapi derasnya berita mengenai persoalan politik, bencana alam, dan tekanan ekonomi. Ia membagikan sejumlah cara yang secara personal ia lakukan untuk menjaga kesehatan mental, termasuk mengambil jarak dari konsumsi berita ketika informasi yang diterima terasa terlalu berat.
Apa yang pada awalnya merupakan pengalaman personal kemudian memunculkan kritik. Sebagian warganet mempertanyakan apakah kemampuan untuk "mengambil jarak" dari berita merupakan sesuatu yang dapat dilakukan oleh semua orang. Bagi seseorang yang keluarganya terdampak bencana, kehilangan pekerjaan akibat kondisi ekonomi, atau kehidupannya secara langsung dipengaruhi oleh kebijakan publik, berita buruk bukan sekadar informasi yang dapat ditutup dengan menekan tombol mute. Berita tersebut mungkin merupakan kehidupan sehari-hari mereka. Di titik inilah kata privilege menjadi penting.
Mindfulness Memang Bermanfaat, tetapi Tidak Hidup di Ruang Hampa
Kritik terhadap konten Maudy seharusnya tidak diterjemahkan menjadi kesimpulan bahwa mindfulness adalah sesuatu yang buruk. Justru sebaliknya, terdapat bukti ilmiah bahwa mindfulness dapat menjadi salah satu pendekatan yang membantu kesejahteraan psikologis.
Meta-analisis terhadap 45 uji terkontrol secara acak mengenai aplikasi mindfulness, misalnya, menemukan adanya perbaikan kecil tetapi signifikan pada gejala depresi dan kecemasan dibandingkan kelompok kontrol. Namun, ketika dibandingkan dengan intervensi terapeutik aktif, perbedaannya tidak signifikan. Artinya, mindfulness memiliki potensi, tetapi tidak tepat diposisikan sebagai pengganti seluruh bentuk intervensi kesehatan mental (Linardon et al., 2024).
Persoalannya bukan pada mindfulness itu sendiri, melainkan pada bagaimana mindfulness dipahami dan dipasarkan. Dalam kehidupan sehari-hari, mindfulness sering mengalami penyederhanaan menjadi resep individual seperti, bernapas, bermeditasi, membatasi media sosial, mengambil digital detox, lalu kembali menjalani kehidupan. Padahal, kesehatan mental seseorang tidak hanya ditentukan oleh bagaimana ia mengelola pikirannya. Kondisi tempat seseorang lahir, belajar, bekerja, memperoleh penghasilan, mendapatkan layanan kesehatan, serta mengalami diskriminasi juga memengaruhi kesehatan mentalnya.
WHO (2014) telah lama menempatkan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan sebagai bagian penting dari determinan kesehatan mental. Ketimpangan sosial berkaitan dengan ketimpangan risiko mengalami masalah kesehatan mental. Penelitian yang lebih mutakhir juga menunjukkan bahwa pendapatan, pekerjaan, pendidikan, keamanan pangan, perumahan, dukungan sosial, diskriminasi, pengalaman masa kanak-kanak, dan akses terhadap layanan kesehatan merupakan bagian dari determinan sosial kesehatan mental (Wright et al., 2024).
Tidak semua orang memulai perjalanan kesehatan mental dari garis start yang sama. Ada orang yang ketika merasa kewalahan dapat mengambil cuti, pergi berlibur, berkonsultasi dengan psikolog, membeli aplikasi meditasi, mengurangi paparan media sosial, atau sekadar mematikan notifikasi. Ada pula orang yang harus tetap bekerja meskipun sedang mengalami tekanan psikologis karena penghasilannya menentukan apakah keluarganya dapat makan hari itu. Keduanya sama-sama manusia. Keduanya sama-sama dapat mengalami kecemasan. Tetapi sumber daya yang tersedia untuk menghadapi kecemasan tersebut berbeda.
Persoalan Privilege Mental Illness
Istilah privilege mental illness bukan berarti seseorang yang mengalami masalah mental otomatis hidup nyaman. Istilah ini lebih tepat digunakan secara hati-hati untuk membicarakan ketimpangan sumber daya, keamanan, pilihan, dan akses yang dapat memengaruhi bagaimana seseorang menghadapi masalah psikologis. Seseorang dapat memiliki masalah kesehatan mental sekaligus memiliki privilege tertentu. Keduanya bukan kontradiksi.
Maudy Ayunda, misalnya, dapat mengalami kelelahan emosional atau kewalahan terhadap derasnya informasi. Pengalaman tersebut tidak menjadi tidak valid hanya karena ia memiliki pendidikan, karier, jaringan sosial, atau sumber daya yang berbeda dari sebagian masyarakat. Sebaliknya, keberadaan privilege juga tidak berarti seseorang tidak boleh merasa lelah. Yang perlu dipertanyakan adalah sesuatu yang berbeda, apakah strategi menghadapi masalah yang berhasil bagi seseorang otomatis dapat diterapkan pada semua orang? Jawabannya, tentu tidak.
Dalam kasus Maudy, justru menarik bahwa setelah kritik muncul, ia mengakui adanya dimensi privilege yang sebelumnya belum cukup ia refleksikan. Ia menyampaikan bahwa kemampuan untuk menjauh dari berita merupakan sebuah privilege karena tidak semua orang mempunyai pilihan tersebut, terutama ketika suatu peristiwa secara langsung memengaruhi kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitas mereka.
Respons tersebut penting karena menggeser perdebatan dari "Maudy benar atau salah" menjadi pertanyaan yang jauh lebih substansial, siapa yang memiliki kesempatan untuk mengatur kesehatan mentalnya, dan siapa yang justru hidup di dalam sumber stres yang sedang kita sarankan untuk mereka jauhi?
Ketika Berita Buruk Bukan Sekadar Berita
Bayangkan seseorang membaca berita tentang kenaikan harga pangan. Bagi sebagian orang, berita tersebut mungkin merupakan sesuatu yang membuat cemas selama beberapa menit. Setelah itu, layar dapat ditutup dan aktivitas dilanjutkan. Namun, bagi keluarga yang pendapatannya pas-pasan, kenaikan harga bukan hanya berita. Ia menentukan menu makan malam. Ia memengaruhi uang sekolah. Ia mungkin menentukan apakah seseorang harus mengambil pekerjaan tambahan. Begitu pula dengan bencana alam.
Bagi seseorang yang tinggal jauh dari lokasi bencana, gambar banjir atau kebakaran mungkin menjadi sumber doomscrolling dan kelelahan emosional. Tetapi bagi korban bencana, persoalannya bukan lagi bagaimana membatasi konsumsi berita. Ia mungkin sedang kehilangan rumah, pekerjaan, akses pendidikan, atau anggota keluarganya.
Dalam situasi seperti itu, mengatakan "ambil jeda dari berita" dapat menjadi strategi regulasi diri bagi sebagian orang, tetapi bukan solusi terhadap sumber masalah bagi orang yang hidupnya memang terdampak langsung. Literatur mengenai determinan sosial kesehatan mental menjelaskan bahwa pengalaman psikologis manusia terbentuk melalui interaksi berbagai faktor pada tingkat individual, keluarga, komunitas, hingga struktur sosial. Karena itu, menjelaskan kesehatan mental hanya melalui kemampuan individu mengatur pikiran berisiko mengabaikan kondisi yang menghasilkan tekanan tersebut sejak awal (Handerer et al., 2022).
Bahaya Ketika Mindfulness Berubah Menjadi Tanggungjawab Individual
Ada kritik akademik yang menarik terhadap popularisasi mindfulness. Chachignon et al., (2024), melalui tinjauan kritis terhadap mindfulness dalam konteks neoliberalisme, menunjukkan bagaimana mindfulness dapat mengalami pergeseran dari praktik psikologis menjadi alat self-care dan self-improvement. Dalam kerangka tersebut, persoalan sosial yang bersifat struktural berisiko diterjemahkan menjadi persoalan pengelolaan diri individu.
Kritik ini bukan berarti mindfulness harus ditinggalkan. Justru kritik tersebut mengingatkan kita agar tidak menggunakan mindfulness untuk mengatakan kepada seseorang tetapi, "masalahnya ada pada cara kamu mengelola stres." Sebab terkadang masalahnya memang bukan hanya bagaimana seseorang merespons stres.
Masalahnya adalah ia bekerja terlalu lama karena tidak memiliki pilihan pekerjaan lain. Masalahnya adalah ia tinggal di lingkungan yang tidak aman. Masalahnya adalah ia tidak memiliki akses terhadap layanan kesehatan mental yang terjangkau. Masalahnya adalah ia mengalami diskriminasi. Masalahnya adalah ia tidak memiliki jaring pengaman sosial. Dalam kondisi semacam itu, mengajarkan regulasi emosi tetap dapat bermanfaat. Namun, regulasi emosi seharusnya berjalan bersama perubahan kondisi yang menghasilkan tekanan tersebut.
Lyons et al., (2026) bahkan mengingatkan bahwa intervensi mindfulness pada tingkat individual tidak cukup untuk mengatasi kondisi yang memengaruhi kesehatan manusia ketika kebutuhan dasar seperti keamanan, pangan, tempat tinggal, dukungan sosial, layanan kesehatan, pendidikan, dan stabilitas finansial belum terpenuhi. Mereka mendorong pendekatan mindfulness yang memperhatikan konteks komunitas dan determinan struktural kesehatan.
Kita Membutuhkan “Mindfulness Sosial”
Mungkin persoalannya bukan mindfulness versus realitas sosial. Kita tidak harus memilih salah satunya. Yang diperlukan justru adalah mindfulness yang lebih sadar konteks. Mindfulness dapat membantu seseorang menyadari bahwa dirinya sedang kewalahan. Tetapi setelah menyadarinya, kita perlu bertanya, “mengapa saya kewalahan?.” Apakah karena terlalu banyak informasi? Atau karena informasi tersebut berkaitan langsung dengan hidup saya? Apakah saya membutuhkan jeda? Atau saya sebenarnya membutuhkan bantuan? Apakah saya perlu mengurangi konsumsi berita? Atau saya perlu lingkungan yang lebih aman, pekerjaan yang lebih layak, dukungan sosial, atau akses layanan psikologis?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat mindfulness tidak berhenti pada "mengatur diri", tetapi berkembang menjadi kesadaran terhadap konteks. Bahkan dalam pengertian psikologisnya, mindfulness tidak identik dengan mengabaikan realitas. Konsep tersebut justru menekankan kesadaran terhadap pengalaman yang sedang terjadi secara terbuka dan tidak menghakimi (Kraines et al., 2020). Jika demikian, bukankah menyadari ketidakadilan sosial juga dapat menjadi bagian dari kesadaran?
Dari “Jaga Kesehatan Mental” menuju “Ciptakan Kondisi yang Sehat Secara Mental”
Kontroversi Maudy Ayunda akhirnya memberikan pelajaran yang lebih besar daripada sekadar perdebatan mengenai satu video. Kita sedang hidup pada masa ketika kesehatan mental semakin populer dibicarakan. Itu merupakan perkembangan yang penting. Namun, popularitas tersebut juga membawa risiko ketika kesehatan mental berubah menjadi sekumpulan nasihat individual yang mudah dikonsumsi seperti meditasi, journaling, digital detox, self-care, positive thinking, dan seterusnya. Semua itu dapat memiliki tempat.
Tetapi masyarakat tidak hanya membutuhkan individu yang lebih mampu mengelola stres. Masyarakat juga membutuhkan lingkungan yang menghasilkan lebih sedikit stres yang dapat dicegah. WHO (2022) menegaskan bahwa transformasi kesehatan mental membutuhkan perhatian terhadap lingkungan tempat manusia hidup, bekerja, belajar, dan berinteraksi, sekaligus peningkatan akses terhadap layanan kesehatan mental yang bermutu dan terjangkau. Karena itu, barangkali pertanyaan yang lebih tepat bukan "Apakah kita harus mindfulness atau peduli terhadap realitas sosial?" Pertanyaannya adalah, bisakah kita tetap menjaga kesehatan mental tanpa mematikan kepekaan sosial?
Kita boleh mengambil jeda dari berita. Kita boleh mengakui bahwa kapasitas emosional kita terbatas. Kita boleh berhenti scrolling ketika informasi mulai terasa terlalu berat. Tidak ada yang salah dengan menjaga diri. Namun, jeda seharusnya tidak berubah menjadi ketidakpedulian. Dan kesehatan mental seharusnya tidak berubah menjadi proyek individual yang mengharuskan setiap orang memperbaiki dirinya sendiri, sementara kondisi sosial yang membuat mereka terluka dibiarkan tetap sama.
Mindfulness yang sehat mungkin bukan tentang menutup mata terhadap dunia agar kita tetap tenang. Barangkali, ia justru tentang mampu melihat dunia apa adanya, termasuk ketidakadilan, ketimpangan, dan penderitaan tanpa kehilangan kemampuan untuk merawat diri. Sebab pada akhirnya, tidak semua orang membutuhkan lebih banyak nasihat untuk "tenang". Sebagian orang membutuhkan dunia yang memang memberi mereka alasan untuk merasa aman.
Article by: Salsabilla Nuranisa Wahyudi, S.Psi (Mahasiswa Magister Psikologi, Universitas Airlangga).
Referensi:
Chachignon, M., Cénat, J. M., & Rousseau, C. (2024). Mindfulness research and applications in the context of neoliberalism: A narrative and critical review. Social and Personality Psychology Compass, 18(6), e12936. https://doi.org/10.1111/spc3.12936
Foale, S., Botma, Y., & Heyns, T. (2024). Mindfulness-based interventions to support wellbeing of adults in low socio-economic settings: A realist review. BMC Complementary Medicine and Therapies, 24, 52. https://doi.org/10.1186/s12906-023-04263-7
Handerer, F. H., Kinderman, P., Shafti, M., & Tai, S. T. (2022). A scoping review and narrative synthesis comparing the constructs of social determinants of health and social determinants of mental health: Matryoshka or two independent constructs? Frontiers in Psychiatry, 13, 848556. https://doi.org/10.3389/fpsyt.2022.848556
Jeste, D. V., & Pender, V. B. (2022). Social determinants of mental health: Recommendations for research, training, practice, and policy. JAMA Psychiatry, 79(4), 283–284. https://doi.org/10.1001/jamapsychiatry.2021.4385
Kabat-Zinn, J. (2003). Mindfulness-based interventions in context: Past, present, and future. Clinical Psychology: Science and Practice, 10(2), 144–156. https://doi.org/10.1093/clipsy.bpg016
Kraines, M. A., Uebelacker, L. A., Gaudiano, B. A., Jones, R. N., Beard, C., Loucks, E. B., & Brewer, J. A. (2020). An adapted Delphi approach: The use of an expert panel to operationally define non-judgment of internal experiences as it relates to mindfulness. Complementary therapies in medicine, 51, 102444. https://doi.org/10.1016/j.ctim.2020.102444
Linardon, J., Messer, M., Goldberg, S. B., & Fuller-Tyszkiewicz, M. (2024). The efficacy of mindfulness apps on symptoms of depression and anxiety: An updated meta-analysis of randomized controlled trials. Clinical Psychology Review, 107, 102370. https://doi.org/10.1016/j.cpr.2023.102370
Lyons, M. J., Kaplan, D. M., Cross, S. H., & Palitsky, R. (2026). No breath(work) without bread: Toward an integrated paradigm for community-owned mindfulness interventions to address structural drivers of human development and health disparities. American Journal of Orthopsychiatry, 96(2), 265–281. https://doi.org/10.1037/ort0000841
Rakesh, D., Shiba, K., Lamont, M., Lund, C., Pickett, K. E., VanderWeele, T. J., & Patel, V. (2025). Economic inequality and mental health: Causality, mechanisms, and interventions. Annual Review of Clinical Psychology, 21, 353–377. https://doi.org/10.1146/annurev-clinpsy-081423-025710
World Health Organization. (2014). Social determinants of mental health. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789241506809?
World Health Organization. (2022). World mental health report: Transforming mental health for all. World Health Organization. https://www.who.int/publications/b/64274?
Wright, T., Griffiths, S. L., & colleagues. (2024). The social determinants of mental health and disorder: Evidence, prevention and recommendations. World Psychiatry, 23(1), 58–90.


