Burnout dan Romantisasi Hustle Culture pada Usia Produktif

psychology
Admin Zalfa
•24 Oktober 2026•timer 5 Menit Baca
Burnout dan Romantisasi Hustle Culture pada Usia Produktif

Ada masa ketika “sibuk” hanya berarti memiliki banyak pekerjaan. Kini, kesibukan sering kali diperlakukan seperti simbol keberhasilan. Bangun lebih pagi, bekerja hingga larut malam, mengambil pekerjaan tambahan, mengikuti berbagai kegiatan, membalas pesan pekerjaan di luar jam kerja, lalu mengunggah semuanya ke media sosial seolah-olah kelelahan merupakan bukti bahwa seseorang sedang membangun masa depan.

Di tengah budaya tersebut, muncul istilah hustle culture, yaitu pola budaya yang menempatkan kerja keras, produktivitas, dan kesibukan sebagai nilai yang sangat tinggi. Persoalannya bukan pada kerja keras itu sendiri. Bekerja dengan tekun tentu bukan sesuatu yang salah. Masalah muncul ketika produktivitas mulai diperlakukan sebagai ukuran utama nilai diri, sementara istirahat dianggap sebagai kemunduran dan batas antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi semakin menghilang.

Fenomena tersebut menjadi relevan bagi kelompok usia produktif yang berada pada fase kehidupan dengan tuntutan yang berlapis. Individu dapat menghadapi tuntutan untuk memperoleh pekerjaan, membangun karier, mencapai stabilitas finansial, memenuhi kebutuhan keluarga, sekaligus mempertahankan citra bahwa dirinya terus berkembang. Pada titik tertentu, pertanyaan “Apa yang sudah saya capai?” dapat berubah menjadi “Apakah saya sudah cukup produktif untuk dianggap berhasil?” Ketika jawabannya selalu “belum”, seseorang dapat terus berlari tanpa pernah merasa benar-benar sampai.

Burnout Bukan Sekadar Lelah

Istilah burnout sering digunakan secara longgar untuk menggambarkan rasa lelah setelah bekerja keras. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan burnout sebagai fenomena okupasional yang muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. WHO mengidentifikasi tiga dimensi utama, yaitu perasaan kehabisan energi atau kelelahan, meningkatnya jarak mental atau sikap negatif terhadap pekerjaan, serta berkurangnya efektivitas profesional. WHO juga menegaskan bahwa burnout secara khusus merujuk pada konteks pekerjaan dan bukan kondisi medis. (World Health Organization [WHO], n.d.).

Definisi tersebut penting karena tidak semua rasa lelah berarti burnout. Seseorang dapat merasa lelah setelah menyelesaikan proyek besar dan kembali pulih setelah beristirahat. Burnout lebih berkaitan dengan tekanan pekerjaan kronis yang tidak tertangani dan ditandai oleh pola kelelahan, keterasingan atau sinisme terhadap pekerjaan, serta penurunan efektivitas.

Masalahnya, budaya produktivitas dapat membuat seseorang mengabaikan tanda-tanda tersebut. Ketika kelelahan dianggap sebagai sesuatu yang wajar, seseorang mungkin justru merasa bersalah ketika tubuh dan pikirannya meminta berhenti. Istirahat kemudian dipandang sebagai sesuatu yang harus “diperoleh” setelah semua pekerjaan selesai, padahal pekerjaan hampir tidak pernah benar-benar selesai.

Dari Kerja Keras Menjadi Identitas

Romantisasi hustle culture menjadi problematis ketika kerja tidak lagi sekadar aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi menjadi bagian utama dari identitas seseorang. Kalimat seperti “tidur nanti saja”, “yang penting produktif”, atau “kalau mau sukses harus rela berkorban” terdengar seperti motivasi. Dalam konteks tertentu, pesan tersebut memang dapat mendorong seseorang untuk bertahan menghadapi tantangan. Namun, apabila diterima tanpa batas, pesan tersebut dapat menciptakan keyakinan bahwa seseorang harus terus bekerja agar dirinya berharga.

Di sinilah produktivitas dapat berubah menjadi tekanan psikologis. Individu tidak hanya mengejar hasil, tetapi juga mengejar perasaan bahwa dirinya cukup. Hari yang tidak produktif dapat terasa seperti kegagalan personal, sementara waktu istirahat memunculkan rasa bersalah. Penelitian tentang workaholism menunjukkan bahwa keterlibatan kerja yang berlebihan tidak selalu identik dengan kesejahteraan. Tinjauan meta-analisis menemukan bahwa workaholism berkaitan dengan sejumlah konsekuensi negatif, termasuk stres kerja, konflik pekerjaan-keluarga, dan penurunan kesejahteraan. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa banyaknya waktu dan energi yang dicurahkan untuk pekerjaan tidak otomatis menghasilkan kondisi psikologis yang lebih baik (Andersen et al., 2023). Kita perlu membedakan kerja keras dari ketidakmampuan untuk berhenti bekerja. Yang pertama dapat menjadi pilihan dan strategi untuk mencapai tujuan. Yang kedua dapat menjadi persoalan ketika seseorang kehilangan batas dan merasa dirinya tidak bernilai tanpa produktivitas.

Bukan Hanya Masalah “Kurang Pandai Mengatur Waktu

Ketika seseorang mengalami kelelahan akibat pekerjaan, respons yang sering diberikan adalah menyarankan time management. Buat jadwal. Bangun lebih pagi. Kurangi penggunaan media sosial. Buat to-do list. Tingkatkan disiplin. Strategi tersebut memang dapat membantu dalam situasi tertentu. Namun, menjadikan pengelolaan waktu sebagai solusi utama dapat mengabaikan persoalan yang lebih besar: bagaimana pekerjaan itu sendiri dirancang?

WHO menempatkan burnout dalam konteks stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Artinya, pembahasan burnout tidak dapat sepenuhnya dilepaskan dari kondisi organisasi dan pekerjaan. Beban kerja, tuntutan emosional, kontrol terhadap pekerjaan, dukungan sosial, penghargaan, dan hubungan interpersonal dapat berpengaruh terhadap pengalaman seseorang di tempat kerja.

Kerangka Job Demands Resources yang dikembangkan Bakker & Demerouti (2007) menjelaskan bahwa tuntutan pekerjaan yang tinggi dapat menguras energi ketika tidak diimbangi sumber daya pekerjaan yang memadai. Sumber daya tersebut dapat berupa dukungan sosial, otonomi, umpan balik, kesempatan berkembang, dan berbagai kondisi yang membantu seseorang menghadapi tuntutan pekerjaannya. Karena itu, tidak adil apabila seluruh persoalan burnout dikembalikan kepada individu. Seseorang dapat memiliki manajemen waktu yang baik, tetapi tetap mengalami tekanan apabila beban kerjanya tidak realistis, jam kerjanya terus meluas, atau organisasi tidak memberikan dukungan yang memadai.

Media Sosial dan Kompetisi untuk Terlihat Produktif

Media sosial menambahkan lapisan baru dalam persoalan tersebut. Kita tidak hanya bekerja, tetapi juga melihat bagaimana orang lain bekerja. Linimasa dapat dipenuhi dengan konten mengenai rutinitas pagi, target harian, pekerjaan sampingan, pencapaian karier, lembur, side hustle, dan berbagai bentuk pengembangan diri. Konten tersebut tidak selalu bermasalah. Banyak di antaranya dapat menjadi sumber inspirasi dan pertukaran pengalaman.

Namun, persoalan muncul ketika media sosial membuat kehidupan produktif orang lain terlihat seperti standar yang harus kita kejar. Individu hanya melihat hasil yang ditampilkan, bukan seluruh kondisi di baliknya. Kita melihat seseorang bekerja di kafe sambil mengembangkan bisnis, tetapi tidak mengetahui dukungan ekonomi, kondisi pekerjaan, akses pendidikan, jaringan sosial, atau keadaan hidup yang memungkinkan rutinitas tersebut.

Perbandingan sosial semacam ini dapat membuat produktivitas terasa seperti perlombaan. Bukan lagi “Saya ingin berkembang sesuai tujuan saya”, tetapi “Saya tertinggal jika tidak melakukan sebanyak orang lain.” Akibatnya, istirahat dapat terasa seperti kalah.

Ketika Istirahat Harus Dibuktikan

Ironi terbesar hustle culture adalah bahkan istirahat pun dapat berubah menjadi proyek produktivitas. Ada self-care yang harus dijadwalkan, olahraga yang harus mencapai target, meditasi yang harus dipantau melalui aplikasi, dan liburan yang harus menghasilkan konten. Tidak ada yang salah dengan merencanakan aktivitas tersebut. Persoalannya adalah ketika setiap ruang kehidupan harus memiliki fungsi produktif.

Padahal, manusia tidak selalu harus menghasilkan sesuatu agar waktunya memiliki nilai. Tidur bukan investasi yang harus menghasilkan prestasi. Berkumpul bersama keluarga tidak harus meningkatkan networking. Berjalan-jalan tidak harus menghasilkan konten. Menghabiskan waktu tanpa melakukan sesuatu yang “berguna” bukan berarti seseorang sedang gagal.

Penelitian mengenai recovery from work menunjukkan bahwa pemulihan dari tuntutan pekerjaan merupakan proses penting bagi kesejahteraan. Sonnentag & Fritz (2007) mengidentifikasi beberapa pengalaman pemulihan, termasuk psychological detachment dari pekerjaan, relaksasi, pengalaman penguasaan aktivitas, dan kontrol terhadap waktu luang. Artinya, pemulihan tidak hanya berarti berhenti mengerjakan tugas, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk secara psikologis melepaskan diri dari pekerjaan.

Solusinya Bukan Berhenti Bekerja

Mengkritik hustle culture bukan berarti mengajak generasi produktif untuk menjadi malas atau kehilangan ambisi. Persoalannya bukan apakah seseorang bekerja keras, tetapi apakah kerja keras tersebut memiliki batas yang sehat dan dilakukan dalam kondisi yang memungkinkan pemulihan.

Pada tingkat individu, langkah pertama adalah mengenali perbedaan antara ambisi dan tekanan untuk selalu produktif. Seseorang perlu memiliki ruang untuk menentukan kapan harus bekerja dan kapan harus berhenti. Menetapkan batas komunikasi di luar jam kerja, menjaga waktu tidur, mengambil waktu pemulihan, dan mengizinkan diri sendiri memiliki aktivitas yang tidak berorientasi pada pencapaian dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.

Pada tingkat organisasi, solusi harus lebih struktural. Tempat kerja perlu mengevaluasi beban kerja, ekspektasi kinerja, jam kerja, dukungan atasan, serta sumber daya yang tersedia bagi pekerja. Jika seseorang terus-menerus kehabisan energi karena tuntutan pekerjaan yang tidak realistis, menyuruhnya “lebih pandai mengatur waktu” tidak menyelesaikan sumber masalahnya.

Kerangka Job Demands–Resources memberikan dasar bahwa organisasi perlu menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dengan sumber daya yang memungkinkan pekerja menjalankan pekerjaannya secara efektif. Dukungan sosial, otonomi, umpan balik, dan kesempatan berkembang merupakan contoh sumber daya yang dapat membantu menghadapi tuntutan pekerjaan (Bakker & Demerouti, 2007).

Media juga memiliki tanggung jawab untuk tidak terus-menerus menjadikan kelelahan sebagai simbol kesuksesan. Cerita mengenai kerja keras boleh disampaikan, tetapi konteks di balik pencapaian juga penting. Kesuksesan yang ditampilkan tanpa konteks dapat membuat kehidupan orang lain terlihat lebih sederhana daripada kenyataannya.

Pengguna media sosial pun perlu memiliki literasi digital yang cukup untuk memahami bahwa linimasa bukan representasi lengkap kehidupan orang lain. Apa yang terlihat adalah potongan pengalaman yang dipilih untuk ditampilkan. Membandingkan kehidupan nyata dengan potongan terbaik kehidupan orang lain adalah kompetisi yang sejak awal tidak seimbang.

Kita Tidak Harus Selalu Produktif untuk Berharga

Mungkin sudah waktunya mengubah pertanyaan yang terlalu sering kita ajukan kepada diri sendiri. Bukan lagi, “Hari ini sudah menghasilkan apa?” tetapi juga, “Apakah hari ini saya memiliki cukup ruang untuk hidup?” Produktivitas memang penting. Pekerjaan memberikan penghasilan, tujuan, struktur kehidupan, dan kesempatan untuk berkembang. Namun, ketika produktivitas menjadi satu-satunya ukuran keberhargaan diri, pekerjaan dapat kehilangan tempatnya sebagai bagian dari kehidupan dan mulai mengambil alih kehidupan itu sendiri.

Burnout seharusnya tidak menjadi medali yang menunjukkan bahwa seseorang telah bekerja paling keras. Kelelahan bukan bukti moral bahwa seseorang lebih rajin daripada orang lain. Begitu pula istirahat bukan tanda bahwa seseorang kurang ambisius. Usia produktif seharusnya bukan usia ketika manusia dipaksa untuk terus menghasilkan sampai dirinya habis. Ia seharusnya menjadi fase ketika seseorang dapat bekerja, berkembang, beristirahat, membangun relasi, dan menjalani kehidupan secara berkelanjutan. Sebab, tujuan bekerja bukan sekadar menjadi semakin sibuk. Pada akhirnya, pekerjaan adalah salah satu bagian dari kehidupan, bukan seluruh alasan mengapa kehidupan harus dijalani.

Article by: Salsabilla Nuranisa Wahyudi, S.Psi (Mahasiswa Magister Psikologi, Universitas Airlangga).

Referensi:

Andersen, F. B., Djugum, M. E. T., Sjåstad, V. S., & Pallesen, S. (2023). The prevalence of workaholism: a systematic review and meta-analysis. Frontiers in psychology, 14, 1252373. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1252373

Bakker, A. B., & Demerouti, E. (2007). The Job Demands–Resources model: State of the art. Journal of Managerial Psychology, 22(3), 309–328. https://doi.org/10.1108/02683940710733115 

Clark, M. A., Michel, J. S., Zhdanova, L., Pui, S. Y., & Baltes, B. B. (2016). All work and no play? A meta-analytic examination of the correlates and outcomes of workaholism. Journal of Management, 42(7), 1836–1873. https://doi.org/10.1177/0149206314522300

Sonnentag, S., & Fritz, C. (2007). The Recovery Experience Questionnaire: Development and validation of a measure for assessing recuperation and unwinding from work. Journal of Occupational Health Psychology, 12(3), 204–221. https://doi.org/10.1037/1076-8998.12.3.204 

World Health Organization. (n.d.). Burn-out an “occupational phenomenon”: International Classification of Diseases. https://www.who.int/news/item/28-05-2019-burn-out-an-occupational-phenomenon-international-classification-of-diseases

Bagikan artikel ini

Tautan tersalin

Artikel Lainnya

Butuh konsultasi?

Tim psikolog kami siap membantu perjalanan Anda dan buah hati menuju kesejahteraan emosional yang lebih baik.