Bukan Hanya Sesak di Paru, tetapi Juga di Pikiran

psychology
Admin Zalfa
•1 Oktober 2026•timer 5 Menit Baca
Bukan Hanya Sesak di Paru, tetapi Juga di Pikiran

Bagi masyarakat di Kalimantan dan Sumatera, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar berita yang muncul di layar televisi atau media sosial. Ketika asap mulai memenuhi udara, langit berubah, aktivitas luar ruang dibatasi, dan kualitas udara harus dipantau dari waktu ke waktu, bencana ekologis perlahan masuk ke dalam kehidupan sehari-hari. Sejak September 2026, Kementerian Kesehatan menyebut wilayah yang paling parah terpapar karhutla berada di Pulau Kalimantan dan Sumatera, disusul sejumlah wilayah di Papua dan Nusa Tenggara. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan kemarau panjang dan meningkatnya titik panas yang dikaitkan dengan kondisi iklim ekstrem. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2026).

Skala persoalan tersebut tidak kecil. Berdasarkan Situation Report Kementerian Kesehatan per 27 Agustus 2026, karhutla telah berdampak pada tujuh provinsi, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan. Jumlah penduduk terdampak mencapai 10.674.201 orang, sementara pada tanggal yang sama tercatat 4.082 kasus ISPA dengan jumlah kumulatif 13.449 kasus. Beberapa wilayah juga mencatat kualitas udara pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya, dengan PM2.5 menjadi parameter kritis. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2026b).

Kalimantan dan Sumatera dengan demikian menunjukkan bahwa karhutla tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai persoalan kawasan hutan. Asap telah bersinggungan dengan permukiman, sekolah, tempat kerja, fasilitas kesehatan, serta aktivitas masyarakat sehari-hari. Ketika jutaan orang terdampak dan fasilitas kesehatan harus meningkatkan kesiapsiagaan, karhutla telah menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan ekologis. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2026a, 2026b).

Namun, jika pembicaraan mengenai karhutla hanya berhenti pada ISPA, batuk, sesak napas, dan kualitas udara, terdapat bagian lain yang berpotensi luput dari perhatian yaitu, kondisi psikologis masyarakat yang hidup di tengah ancaman tersebut.

Asap Tidak Berhenti di Paru-Paru

Dampak karhutla yang paling mudah terlihat memang berupa gangguan kesehatan fisik. Paparan asap dan partikulat dapat berkaitan dengan gangguan saluran pernapasan, batuk, sesak napas, iritasi mata dan kulit, serta memperburuk kondisi tertentu seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronik. Kelompok seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan memerlukan perhatian khusus. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2026b).

Akan tetapi, kesehatan manusia tidak berhenti pada kondisi tubuh. Ketika seseorang tidak mengetahui kapan udara akan kembali bersih, harus terus memantau kualitas udara, khawatir terhadap kesehatan anggota keluarga, atau harus mengubah rutinitas karena asap, situasi tersebut juga dapat menjadi sumber tekanan psikologis. Kajian Eisenman & Galway (2022) menunjukkan bahwa paparan asap kebakaran dapat berdampak terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis, terutama pada episode asap yang berlangsung kronis atau persisten. Meski demikian, penulis menekankan bahwa bukti yang tersedia masih terbatas dan tidak konsisten. Oleh sebab itu, asap karhutla tidak dapat dikatakan secara otomatis menyebabkan gangguan mental pada setiap orang. Hubungan tersebut lebih tepat dipahami sebagai kemungkinan munculnya tekanan psikologis melalui paparan asap, perubahan lingkungan, gangguan aktivitas, kekhawatiran terhadap kesehatan, serta kondisi sosial yang menyertainya. 

Persoalan tersebut menjadi semakin relevan ketika bencana berlangsung berulang atau dalam waktu yang panjang. Rumah yang seharusnya menjadi ruang aman dapat berubah menjadi tempat yang harus terus dipantau kualitas udaranya. Sekolah dan tempat kerja harus menyesuaikan aktivitas. Kegiatan bermain anak di luar rumah dapat dibatasi. Bagi pekerja yang tidak memiliki pilihan untuk bekerja dari rumah, kondisi udara buruk bahkan dapat menciptakan dilema antara menjaga kesehatan dan mempertahankan penghasilan.

Hidup dalam Ketidakpastian

Salah satu beban psikologis yang dapat muncul dalam situasi bencana adalah ketidakpastian. Masyarakat tidak selalu mengetahui kapan api akan benar-benar padam, kapan asap akan menghilang, atau apakah kondisi serupa akan kembali terjadi. Ketidakpastian tersebut dapat membuat individu terus memperhatikan tanda-tanda ancaman di lingkungan sekitarnya.

Kajian sistematis dan meta-analisis mengenai dampak peristiwa cuaca ekstrem di Asia Tenggara menunjukkan bahwa peristiwa ekstrem dapat diikuti berbagai masalah kesehatan mental. Penelitian yang mencakup 155 studi dengan 204.474 partisipan menemukan bahwa gangguan mental terdokumentasi dalam proporsi yang cukup besar setelah berbagai peristiwa ekstrem, meskipun hasilnya sangat heterogen dan tidak dapat digeneralisasikan begitu saja pada karhutla di Kalimantan dan Sumatera. Faktor seperti kehilangan tempat tinggal atau pekerjaan, perpindahan, kerusakan infrastruktur, serta terputusnya hubungan sosial dapat berkontribusi terhadap beban psikologis. Sebaliknya, dukungan sosial dan sistem peringatan dini dapat menjadi faktor protektif (Majumder et al., 2024).

Temuan tersebut penting karena menunjukkan bahwa respons psikologis terhadap bencana tidak hanya ditentukan oleh karakteristik individu. Lingkungan sosial dan kondisi kehidupan turut menentukan seberapa berat seseorang mengalami dampak bencana. Karhutla yang berkepanjangan, misalnya, tidak hanya menghasilkan udara yang tercemar, tetapi juga dapat mengganggu pekerjaan, pendidikan, mobilitas, interaksi sosial, dan rutinitas keluarga.

Oleh karena itu, membicarakan kesehatan mental dalam konteks karhutla bukan berarti menyatakan bahwa setiap orang yang menghirup asap akan mengalami gangguan psikologis. Yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan adanya beban psikologis yang muncul ketika seseorang harus hidup dalam kondisi lingkungan yang tidak pasti, aktivitas yang terganggu, dan ancaman kesehatan yang terus berlangsung.

Bencana Tidak Berdampak Sama pada Semua Orang

Karhutla juga memperlihatkan bahwa kemampuan menghadapi bencana tidak terbagi secara merata. Sebagian keluarga mungkin dapat membeli perlengkapan perlindungan, mengurangi aktivitas luar ruang, bekerja dari rumah, atau berpindah sementara ke wilayah yang kualitas udaranya lebih baik. Namun, pilihan tersebut tidak tersedia bagi semua orang.

Pekerja lapangan, pedagang kecil, pengemudi, petani, pekerja konstruksi, dan kelompok lain yang bergantung pada aktivitas di luar ruangan dapat menghadapi dilema antara menjaga kesehatan dan mempertahankan pendapatan. Keluarga yang tinggal di wilayah terdampak juga mungkin tidak memiliki sumber daya untuk berpindah sementara. Artinya, risiko lingkungan dapat bertemu dengan ketimpangan sosial dan ekonomi.

Temuan Majumder et al., (2024) mengenai bencana ekstrem di Asia Tenggara juga menunjukkan bahwa karakteristik sosial dan kondisi lingkungan dapat memengaruhi dampak psikologis yang dialami masyarakat. Karena itu, intervensi tidak cukup jika hanya berfokus pada kemampuan individu mengelola stres. Perlindungan terhadap masyarakat juga harus mempertimbangkan siapa yang paling rentan, siapa yang paling sering terpapar, dan siapa yang memiliki pilihan paling sedikit untuk menghindari paparan.

Memberi tahu masyarakat untuk mengurangi aktivitas luar ruang, misalnya, akan jauh lebih bermakna apabila tersedia informasi kualitas udara yang mudah dipahami, layanan kesehatan yang mudah dijangkau, kebijakan sekolah yang adaptif, serta perlindungan bagi pekerja yang tetap harus berada di luar ruangan.

Solusi Tidak Boleh Menunggu Asap Datang

Penanganan karhutla perlu memasukkan kesehatan mental sebagai bagian dari respons kesehatan bencana. Fasilitas pelayanan kesehatan tidak hanya perlu menangani keluhan pernapasan, tetapi juga perlu mampu mengenali masyarakat yang mengalami tekanan psikologis akibat paparan bencana, kehilangan mata pencaharian, perpindahan, atau gangguan kehidupan yang berkepanjangan. Kajian mengenai asap kebakaran menunjukkan bahwa dampak terhadap kesehatan mental dapat berlangsung melalui berbagai tingkat, mulai dari individu hingga jaringan sosial, kondisi hidup dan kerja, serta lingkungan ekologis. Karena itu, mitigasi kesehatan mental juga membutuhkan pendekatan lintas sektor, bukan hanya layanan klinis. (Eisenman & Galway, 2022).

Komunikasi risiko juga perlu diperkuat. Masyarakat membutuhkan informasi yang cepat, jelas, konsisten, dan mudah dipahami mengenai kualitas udara, wilayah terdampak, kelompok rentan, serta langkah perlindungan yang dapat dilakukan. Kementerian Kesehatan telah menyiapkan fasilitas kesehatan dan memobilisasi tenaga kesehatan di tujuh provinsi terdampak, termasuk Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan. Per 27 Agustus 2026, sebanyak 848 tenaga kesehatan telah dimobilisasi dan 1.691 puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, serta 87 laboratorium kesehatan masyarakat disiapkan untuk menghadapi dampak karhutla. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2026b).

Sekolah dan komunitas juga membutuhkan protokol perlindungan psikososial. Anak-anak tidak hanya membutuhkan perlindungan dari udara yang tercemar, tetapi juga membutuhkan rutinitas, rasa aman, komunikasi yang sesuai dengan usia, dan dukungan dari orang dewasa ketika aktivitas mereka terganggu. Sekolah dapat menyesuaikan kegiatan luar ruang berdasarkan kondisi kualitas udara sekaligus menyediakan ruang bagi siswa untuk menyampaikan kekhawatiran yang mereka alami.

Dukungan sosial di tingkat komunitas perlu diperkuat. Solidaritas warga dapat menjadi sumber perlindungan psikologis ketika bencana berlangsung. Jejaring relawan, posko komunitas, dukungan bagi keluarga rentan, dan sistem pemantauan warga dapat membantu mengurangi perasaan menghadapi bencana seorang diri. Dukungan sosial juga merupakan salah satu faktor yang relevan dalam membangun ketahanan masyarakat setelah peristiwa ekstrem (Majumder et al., 2024).

Terakhir, pencegahan harus dilakukan sebelum asap memenuhi permukiman. Kesiapsiagaan tidak seharusnya dimulai ketika kualitas udara telah mencapai kategori berbahaya. Pemantauan titik panas, prakiraan cuaca, kualitas udara, kesiapan fasilitas kesehatan, sistem peringatan dini, serta perlindungan kelompok rentan perlu berjalan sebelum dampak mencapai tingkat yang lebih berat. Pendekatan semacam ini sejalan dengan rekomendasi penelitian mengenai bencana ekstrem yang menempatkan sistem peringatan dini dan dukungan komunitas sebagai bagian dari faktor protektif. (Majumder et al., 2024).

Jangan Meminta Masyarakat Sekadar Menjadi Tangguh

Ada kecenderungan untuk menjadikan “ketangguhan masyarakat” sebagai jawaban atas hampir semua bencana. Masyarakat diminta beradaptasi, menjaga kesehatan mental, saling membantu, dan tetap kuat. Semua itu memang penting, tetapi ketangguhan tidak boleh berubah menjadi alasan untuk membiarkan persoalan yang lebih besar berlangsung berulang kali.

Seseorang dapat belajar mengelola kecemasan, tetapi ia tidak dapat sendirian memperbaiki kualitas udara. Keluarga dapat membatasi aktivitas anak, tetapi mereka tidak dapat sendirian menangani kebakaran dalam skala luas. Masyarakat dapat saling membantu, tetapi mereka tetap membutuhkan sistem kesehatan, informasi, perlindungan sosial, pencegahan, dan penanganan lingkungan yang bekerja.

Eisenman & Galway (2022) justru menunjukkan bahwa dampak asap terhadap kesehatan mental perlu dipahami melalui berbagai tingkatan, termasuk kondisi sosial, komunitas, tempat tinggal, pekerjaan, dan lingkungan. Perspektif tersebut penting agar kesehatan mental tidak dipersempit menjadi persoalan “seberapa kuat seseorang menghadapi stres”. Jika sumber tekanan berasal dari lingkungan yang terus memburuk, maka intervensi juga perlu menyasar lingkungan tersebut.

Dari Bertahan Menjadi Mencegah

Karhutla di Kalimantan dan Sumatera pada 2026 memperlihatkan bahwa bencana lingkungan tidak pernah benar-benar hanya menjadi persoalan lingkungan. Ketika jutaan orang terdampak dan kasus gangguan pernapasan meningkat, persoalan tersebut menjadi bagian dari kesehatan masyarakat. Ketika masyarakat harus mengubah rutinitas, mengkhawatirkan kesehatan keluarga, dan hidup dalam ketidakpastian, dimensi psikologis juga tidak dapat diabaikan. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2026a, 2026b).

Karena itu, ukuran keberhasilan penanganan karhutla seharusnya tidak berhenti pada seberapa cepat api dipadamkan atau berapa banyak masker dibagikan. Kita juga perlu melihat apakah masyarakat memperoleh informasi yang memadai, apakah kelompok rentan terlindungi, apakah layanan kesehatan fisik dan psikologis dapat diakses, apakah sekolah dan tempat kerja memiliki protokol adaptif, serta apakah sistem pencegahan mampu bekerja sebelum asap kembali memenuhi permukiman.

Masyarakat memang perlu dibantu agar mampu bertahan ketika bencana datang. Namun, tujuan akhirnya bukan membuat masyarakat semakin terbiasa menghirup asap, semakin terbiasa hidup dalam ketidakpastian, atau semakin pandai menekan kecemasan. Tujuan akhirnya adalah membangun sistem yang membuat masyarakat tidak harus terus-menerus bertahan dari bencana yang sama.

Sebab, karhutla mungkin bermula dari api di hutan dan lahan, tetapi dampaknya dapat berakhir di tubuh, rumah, sekolah, pekerjaan, relasi sosial, bahkan pikiran manusia. Jika kita hanya memadamkan apinya tanpa memperhatikan manusia yang menghirup asapnya, kita belum sepenuhnya menyelesaikan persoalannya.

Article by: Salsabilla Nuranisa Wahyudi, S.Psi (Mahasiswa Magister Psikologi, Universitas Airlangga).

Referensi:

Eisenman, D. P., & Galway, L. P. (2022). The mental health and well-being effects of wildfire smoke: A scoping review. BMC Public Health, 22, 2274. https://doi.org/10.1186/s12889-022-14662-z 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026a, September 6). Karhutla di Indonesia: Saat asap datang, kita siap. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/karhutla-di-indonesia-saat-asap-datang-kita-siap/

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026b, August 29). Kemenkes siap siaga hadapi dampak karhutla, 848 tenaga kesehatan dimobilisasi. https://www.kemkes.go.id/id/kemenkes-siap-siaga-hadapi-dampak-karhutla-848-tenaga-kesehatan-dimobilisasi?

Majumder, J., Saha, I., Bagepally, B. S., Kalita, M., Munikrishnappa, D., Ray, S., Saha, A., & Chakrabarti, A. (2024). Mental health burden following extreme weather events in South-east Asia: A systematic review and meta-analysis. Indian Journal of Psychiatry, 66(8), 683–694. https://doi.org/10.4103/indianjpsychiatry.indianjpsychiatry_348_24

Bagikan artikel ini

Tautan tersalin

Artikel Lainnya

Butuh konsultasi?

Tim psikolog kami siap membantu perjalanan Anda dan buah hati menuju kesejahteraan emosional yang lebih baik.