Menelisik Beban Kesehatan Mental Generasi Sandwich yang Dibersamai Tekanan Ekonomi Struktural

psychology
Admin Zalfa
•1 Oktober 2026•timer 5 Menit Baca
Menelisik Beban Kesehatan Mental Generasi Sandwich yang Dibersamai Tekanan Ekonomi Struktural

Menjadi dewasa sering kali dibayangkan sebagai fase ketika seseorang akhirnya dapat menentukan hidupnya sendiri. Bekerja, memiliki penghasilan, membangun keluarga, dan mengejar cita-cita seolah menjadi gambaran kehidupan yang ideal. Namun, bagi sebagian orang, kedewasaan justru datang bersama tanggung jawab yang berlapis. Mereka harus membiayai kehidupan sendiri, membantu orang tua, sekaligus memenuhi kebutuhan pasangan dan anak. 

Kondisi inilah yang kemudian melahirkan istilah sandwich generation, yaitu generasi yang berada di antara tuntutan untuk memberikan dukungan kepada generasi yang lebih tua sekaligus memenuhi kebutuhan generasi yang lebih muda. Istilah tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi pengalaman psikologis yang menyertainya tidaklah sederhana. Seseorang dapat menjadi pencari nafkah, anak, pasangan, orang tua, sekaligus pengasuh dalam waktu yang bersamaan. Ketika berbagai peran tersebut berjalan secara bersamaan, kebutuhan pribadi sering kali ditempatkan paling belakang.

Beban tersebut menjadi semakin berat ketika tanggung jawab keluarga berlangsung di tengah tekanan ekonomi. Pendapatan yang diterima tidak selalu bertambah seiring dengan meningkatnya kebutuhan hidup, sementara biaya pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, dan kebutuhan sehari-hari terus harus dipenuhi. Akibatnya, generasi sandwich tidak hanya menghadapi persoalan bagaimana memperoleh penghasilan, tetapi juga bagaimana membagi sumber daya yang terbatas kepada banyak pihak yang bergantung kepadanya. Kondisi semacam ini dapat menciptakan tekanan psikologis yang berlangsung terus-menerus karena setiap keputusan finansial selalu memiliki konsekuensi terhadap kehidupan orang lain.

Bukan Sekadar Persoalan Tidak Pandai Mengatur Keuangan

Pembicaraan mengenai sandwich generation di media sosial sering kali berakhir pada nasihat individual, seperti menabung sejak muda, membuat anggaran, mengurangi gaya hidup, atau belajar investasi. Literasi finansial memang penting, tetapi nasihat tersebut menjadi problematis ketika seolah-olah seluruh persoalan sandwich generation dapat diselesaikan dengan kemampuan individu mengatur keuangan. 

Bagaimana seseorang dapat mengatur keuangannya secara ideal ketika pendapatan yang diperoleh harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, anak, pasangan, sekaligus orang tua? Persoalannya bukan selalu karena seseorang tidak mampu mengelola uang, melainkan karena jumlah kebutuhan yang harus ditanggung memang jauh lebih besar dibandingkan sumber daya yang tersedia.

Hubungan antara tekanan ekonomi dan kesehatan mental juga telah banyak ditunjukkan oleh penelitian. Guan et al., (2022) melalui tinjauan sistematis terhadap 40 studi, menemukan hubungan yang konsisten antara tekanan finansial dan depresi pada orang dewasa. Tekanan tersebut dapat bekerja melalui beban psikologis maupun kondisi sosial-ekonomi yang membatasi pilihan individu. Dengan demikian, ketika seseorang terus-menerus memikirkan cicilan, biaya pendidikan anak, kebutuhan kesehatan orang tua, atau ketidakpastian pekerjaan, persoalannya bukan sekadar bahwa ia "terlalu banyak berpikir". Ada kondisi material yang memang sedang memberikan tekanan nyata terhadap kehidupan psikologisnya.

Menjadi Anak yang Harus Bertanggung Jawab

Pada masyarakat Indonesia yang memiliki ikatan keluarga relatif kuat, membantu orang tua sering kali dipandang sebagai bentuk kasih sayang sekaligus kewajiban moral. Nilai tersebut pada dasarnya tidak bermasalah. Persoalan muncul ketika kewajiban tersebut bertemu dengan kondisi ekonomi yang membuat seseorang tidak memiliki cukup sumber daya untuk memenuhi seluruh kebutuhan tanpa mengorbankan dirinya sendiri. Pada titik tertentu, seseorang dapat mengalami konflik batin ketika harus memilih antara membantu orang tua, memenuhi kebutuhan keluarga inti, menabung untuk masa depan, atau memenuhi kebutuhannya sendiri. Ketika pilihan apa pun berpotensi menimbulkan rasa bersalah, tanggung jawab finansial akhirnya berkembang menjadi beban emosional.

Beban tersebut juga tidak hanya berbentuk tekanan finansial. Hodgdon et al., (2023) melalui scoping review mengenai sandwiched caregivers di Amerika Serikat menunjukkan bahwa posisi sebagai pengasuh bagi generasi yang lebih tua dan generasi yang lebih muda berkaitan dengan berbagai tantangan terhadap kesejahteraan psikologis dan kesehatan fisik. Namun, pengalaman setiap anggota sandwich generation tidak dapat disamaratakan. 

Cheng & Santos-Lozada (2024) menunjukkan bahwa kondisi kesehatan mental dan fisik berbeda berdasarkan bentuk serta intensitas tanggung jawab yang diberikan kepada anggota keluarga. Artinya, seseorang tidak otomatis mengalami masalah kesehatan mental hanya karena termasuk sandwich generation. Risiko psikologis sangat dipengaruhi oleh jumlah tanggung jawab, kondisi pekerjaan, sumber daya ekonomi, dukungan sosial, serta situasi keluarga yang dimiliki.

Ketika Masalah Struktural Dibebankan kepada Individu

Di sinilah pembicaraan mengenai sandwich generation perlu diperluas. Jika seseorang harus bekerja semakin keras hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, sementara biaya hidup, pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal semakin sulit dijangkau, persoalan tersebut tidak dapat sepenuhnya diselesaikan melalui self-care atau nasihat agar lebih pandai mengatur keuangan. Istirahat memang penting, pengelolaan stres juga penting, dan literasi finansial tetap diperlukan. Namun, kemampuan individu untuk mengelola dirinya memiliki batas ketika sumber tekanan berasal dari kondisi ekonomi yang berada di luar kendalinya.

Penelitian mengenai financial strain menunjukkan bahwa kesulitan memenuhi kebutuhan dan pengeluaran berkaitan dengan kondisi kesehatan mental, fisik, biologis, dan fungsional yang lebih buruk (Samuel et al., 2025). Tinjauan sistematis Talamonti et al., (2024) juga menunjukkan adanya hubungan antara krisis finansial dengan berbagai masalah kesehatan mental dan kesejahteraan masyarakat. Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental tidak dapat dilepaskan begitu saja dari kondisi ekonomi. Karena itu, ketika generasi sandwich mengalami kelelahan, kecemasan, atau tekanan psikologis, kita tidak seharusnya langsung menganggap bahwa mereka kurang mampu mengelola stres. Bisa jadi, tekanan tersebut merupakan respons yang masuk akal terhadap situasi kehidupan yang memang penuh tuntutan.

Kita Tidak Hanya Membutuhkan Individu yang Tangguh

Membicarakan kesehatan mental generasi sandwich seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan mengenai bagaimana seseorang dapat menjadi lebih kuat dalam menghadapi tekanan. Kita juga perlu mempertanyakan mengapa tekanan tersebut begitu besar sejak awal. Dukungan sosial, kondisi pekerjaan yang layak, akses terhadap layanan kesehatan, perlindungan sosial, serta sistem jaminan sosial merupakan bagian dari lingkungan yang dapat menentukan seberapa berat tanggung jawab yang harus ditanggung oleh individu dan keluarga. Dalam perspektif kesehatan mental, persoalan ekonomi bukan sekadar latar belakang kehidupan, melainkan dapat menjadi bagian dari kondisi sosial yang memengaruhi risiko munculnya tekanan psikologis.

Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika mengagungkan generasi sandwich sebagai generasi yang kuat karena mampu menanggung banyak hal sekaligus. Kemampuan untuk terus bekerja, memenuhi kebutuhan keluarga, merawat orang tua, dan tetap menjalankan kehidupan sehari-hari memang dapat menunjukkan ketangguhan, tetapi ketangguhan tidak selalu berarti seseorang baik-baik saja. Ada orang yang terlihat mampu bertahan bukan karena bebannya ringan, melainkan karena ia merasa tidak memiliki pilihan untuk berhenti.

Jangan Jadikan Pengorbanan sebagai Standar Kesehatan Mental

Tanggung jawab terhadap keluarga merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia, dan membantu orang tua tidak seharusnya selalu dipandang sebagai beban. Namun, masyarakat perlu membedakan antara tanggung jawab keluarga dengan pengorbanan tanpa batas yang dianggap sebagai kewajiban moral. Generasi sandwich tidak seharusnya dipaksa memilih antara menjadi anak yang berbakti, orang tua yang baik, pekerja yang produktif, dan manusia yang tetap sehat secara psikologis. Mereka menjalankan berbagai peran tersebut secara bersamaan, sehingga dukungan terhadap mereka juga seharusnya tidak hanya diarahkan pada kemampuan individu untuk bertahan.

Solusi terhadap persoalan sandwich generation karena itu tidak cukup berupa nasihat agar individu lebih hemat, lebih kuat, atau lebih pandai mengelola stres. Kita membutuhkan lingkungan sosial dan ekonomi yang memungkinkan tanggung jawab keluarga ditanggung secara lebih layak tanpa harus mengorbankan kesehatan mental.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya "seberapa kuat generasi sandwich mampu bertahan?", tetapi juga "mengapa mereka harus menanggung beban sebesar itu sendirian?" Kesehatan mental bukan hanya tentang kemampuan seseorang bertahan menghadapi tekanan, tetapi juga tentang apakah masyarakat menyediakan kondisi yang memungkinkan seseorang tidak harus terus-menerus bertahan.

Article by: Salsabilla Nuranisa Wahyudi, S.Psi (Mahasiswa Magister Psikologi, Universitas Airlangga).

Referensi:

Cheng, K. J. G., & Santos-Lozada, A. R. (2024). Mental and physical health among “sandwich” generation working-age adults in the United States: Not all sandwiches are made equal. SSM - Population Health, 26, 101650. https://doi.org/10.1016/j.ssmph.2024.101650

Frankham, C., Richardson, T., & Maguire, N. (2020). Psychological factors associated with financial hardship and mental health: A systematic review. Clinical Psychology Review, 77, 101832. https://doi.org/10.1016/j.cpr.2020.101832

Guan, N., Guariglia, A., Moore, P., Xu, F., & Al-Janabi, H. (2022). Financial stress and depression in adults: A systematic review. PLOS ONE, 17(2), e0264041. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0264041

Hodgdon, T. M., Wong, J. D., & Pittman, P. S. (2023). The psychological well-being and physical health of sandwiched caregivers in the United States: A scoping review. Families, Systems, & Health, 41(2), 240–255. https://doi.org/10.1037/fsh0000716

Samuel, L. J., Saylor, M. A., Choe, M. Y., Wright, R. S., Kim, B., Nkimbeng, M., Mena-Carrasco, F., Beak, J., & Szanton, S. L. (2025). Financial strain measures and associations with adult health: A systematic literature review. Social Science & Medicine, 364, 117531. https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2024.117531

Talamonti, D., Schneider, J., Gibson, B., & Forshaw, M. (2024). The impact of national and international financial crises on mental health and well-being: A systematic review. Journal of Mental Health, 33(4), 522–559. https://doi.org/10.1080/09638237.2023.2278104

McGrath, M., Duncan, F., Dotsikas, K., Baskin, C., Crosby, L., Gnani, S., Hunter, R. M., Kaner, E., Kirkbride, J. B., Lafortune, L., Lee, C., Oliver, E., Osborn, D. P., Walters, K. R., & Dykxhoorn, J. (2021). Effectiveness of community interventions for protecting and promoting the mental health of working-age adults experiencing financial uncertainty: A systematic review. Journal of Epidemiology and Community Health, 75(7), 665–673. https://doi.org/10.1136/jech-2020-2155

Bagikan artikel ini

Tautan tersalin

Artikel Lainnya

Butuh konsultasi?

Tim psikolog kami siap membantu perjalanan Anda dan buah hati menuju kesejahteraan emosional yang lebih baik.