Serumah, tetapi Tak Lagi Merasa di Rumah: Dinamika Anak Mengalami Alienasi dalam Keluarga

psychology
Admin Zalfa
7 September 2026timer 5 Menit Baca
Serumah, tetapi Tak Lagi Merasa di Rumah: Dinamika Anak Mengalami Alienasi dalam Keluarga

Ada anak-anak yang setiap hari masih duduk di meja makan yang sama dengan orang tuanya, tidur di rumah yang sama, pergi ke sekolah dengan bekal yang disiapkan dari dapur yang sama, tetapi tidak lagi merasa bahwa rumah adalah tempat untuk pulang. Mereka hadir secara fisik, tetapi perlahan menghilang secara emosional dari keluarganya sendiri. 

Fenomena semacam ini mungkin tidak selalu terlihat sebagai persoalan besar. Anak yang mulai jarang bercerita dapat dianggap sedang memasuki masa remaja. Anak yang lebih banyak menghabiskan waktu di kamar dianggap sedang mencari privasi. Anak yang lebih nyaman berbicara dengan teman daripada orang tua dianggap mulai tidak membutuhkan keluarga. Padahal, perubahan tersebut dapat menjadi sinyal bahwa hubungan anak dengan keluarganya sedang mengalami persoalan yang lebih mendasar. 

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar, “Mengapa anak menjauh?” tetapi, “Apa yang membuat seorang anak merasa perlu menjauh dari rumahnya sendiri?”  Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika melihat kondisi perlindungan anak di Indonesia. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan bahwa sepanjang Januari-April 2026 terdapat 426 pengaduan terkait pelanggaran hak anak, dengan pengasuhan bermasalah serta kekerasan fisik dan psikis termasuk persoalan yang dominan (Komisi Perlindungan Anak Indonesia, 2026a). Bahkan, dalam laporan tersebut, orang tua tercatat sebagai pihak yang terlibat dalam sejumlah kasus, menunjukkan bahwa kerentanan anak tidak selalu berada jauh dari rumah, tetapi dapat muncul dari relasi yang paling dekat dengan mereka (KPAI, 2026b).

Angka-angka tersebut tentu tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai angka anak yang mengalami alienasi. Namun, data tersebut memberi sebuah alarm: keluarga yang seharusnya menjadi lingkungan pertama dan utama bagi tumbuh kembang anak belum selalu mampu menjadi ruang yang aman, responsif, dan suportif. KPAI bahkan menegaskan perlunya penguatan pola pengasuhan positif tanpa kekerasan dan komunikasi yang sehat dalam keluarga (KPAI, 2026b). 

Ketika Rumah Hanya Menjadi Tempat Tinggal

Keluarga bukan sekadar kumpulan orang yang tinggal dalam satu bangunan. Dalam perspektif psikologi keluarga, kualitas fungsi keluarga tercermin dari bagaimana anggota keluarga berkomunikasi, menyelesaikan masalah, memberikan dukungan emosional, serta merespons kebutuhan satu sama lain. Karena itu, rumah yang ramai belum tentu membuat anak merasa ditemani. Kehadiran orang tua secara fisik tidak otomatis menghadirkan keterhubungan emosional.

Penelitian terhadap remaja di Indonesia menemukan adanya hubungan antara keberfungsian keluarga dan kesepian. Semakin baik keberfungsian keluarga, semakin rendah kecenderungan kesepian yang dirasakan remaja (Cendra, 2012). Bahkan, dimensi komunikasi keluarga ditemukan sebagai salah satu aspek yang paling berkaitan dengan kesepian pada remaja dalam penelitian tersebut (Cendra, 2012).

Temuan serupa juga terlihat pada penelitian Hidayati (2018) terhadap remaja yang hidup dengan orang tua tunggal akibat perceraian. Penelitian tersebut menemukan hubungan negatif antara keberfungsian keluarga dan kesepian, yang menunjukkan bahwa kualitas fungsi keluarga berkaitan dengan pengalaman psikologis remaja, bukan semata-mata struktur keluarganya. 

Hal ini penting karena masyarakat sering kali terlalu cepat menggunakan kategori “keluarga utuh” dan “keluarga tidak utuh” untuk menjelaskan kondisi anak. Padahal, keluarga dengan kedua orang tua dapat mengalami disfungsi, sementara keluarga dengan orang tua tunggal belum tentu gagal memenuhi kebutuhan psikologis anak. Yang menentukan bukan hanya siapa yang tinggal di rumah, tetapi bagaimana mereka memperlakukan satu sama lain di dalamnya.

Anak Menjauh Bukan karena Tidak Sayang 

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang dewasa adalah membaca perubahan perilaku anak tanpa melihat konteks relasional di belakangnya. Ketika anak berhenti bercerita, orang tua mungkin berkata, “Sekarang kamu sudah tidak mau cerita kepada Mama.” Ketika anak lebih nyaman dengan teman, orang tua mungkin menyimpulkan, “Teman-temanmu sudah membuatmu berubah.” Ketika anak memilih mengurung diri di kamar, ia mungkin segera dicap tidak menghargai keluarga.

Padahal, anak dapat berhenti bercerita ketika pengalaman sebelumnya mengajarkannya bahwa berbicara tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Jika setiap keluhan dibalas dengan kemarahan, setiap kesalahan dibalas dengan perbandingan, dan setiap ekspresi emosi dianggap sebagai bentuk pembangkangan, anak dapat belajar bahwa membuka diri bukanlah sesuatu yang aman.

Dalam konteks yang lebih luas, penelitian mengenai relasi orang tua-anak menunjukkan bahwa pengalaman penolakan dari orang tua berkaitan dengan penyesuaian sosial anak. Studi terhadap 1.140 remaja menemukan bahwa parental phubbing, ketika orang tua mengabaikan interaksi dengan anak karena perhatian pada ponsel berhubungan dengan peer alienation, dan persepsi penolakan orang tua menjadi salah satu mekanisme yang menjelaskan hubungan tersebut (Wu et al., 2022). Dengan kata lain, keterasingan anak tidak selalu dimulai dari sebuah konflik besar. Ia dapat tumbuh dari pengalaman-pengalaman kecil ketika anak berulang kali merasa tidak dilihat, tidak didengar, atau tidak dianggap penting. 

Keluarga Disfungsional Bukan Sekadar Keluarga yang Bercerai 

Ketika berbicara mengenai keluarga disfungsional, masyarakat sering kali langsung membayangkan perceraian, orang tua tunggal, atau rumah tangga yang penuh pertengkaran. Padahal, disfungsi keluarga tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan struktur keluarga. Yang lebih penting adalah bagaimana sistem keluarga menjalankan fungsi komunikasi, dukungan, pemecahan masalah, pengasuhan, serta pemenuhan kebutuhan emosional anak.

Konflik orang tua memang dapat menjadi salah satu sumber tekanan bagi anak. Namun, konflik itu sendiri tidak selalu menghasilkan dampak yang sama; kualitas konflik, cara penyelesaiannya, serta bagaimana anak dilibatkan dalam konflik turut menentukan konsekuensinya terhadap perkembangan anak (Zemp et al., 2016). Karena itu, keluarga yang jarang bertengkar belum tentu sehat secara emosional. Diam yang muncul karena saling menghargai tentu berbeda dengan diam karena anggota keluarga sudah tidak merasa aman untuk berbicara. Demikian pula, keluarga yang tampak harmonis di depan orang lain belum tentu menjadi ruang yang nyaman bagi anak. Disfungsi keluarga terkadang tidak terdengar sebagai pertengkaran. Ia dapat terdengar sebagai keheningan.

Mulanya Hanya Diam, Tanpa Disadari Menjadi Jarak Emosional

Alienasi dalam konteks ini dapat dipahami sebagai pengalaman subjektif ketika seseorang merasa terpisah, tidak terhubung, atau tidak memiliki keterikatan yang bermakna dengan lingkungan sosialnya. Pada anak, proses tersebut dapat berkembang ketika hubungan yang seharusnya memberikan rasa aman justru berulang kali menghadirkan pengalaman penolakan, pengabaian, konflik, atau ketidakmampuan keluarga merespons kebutuhan emosionalnya.

Namun, penting untuk membedakan alienasi emosional dengan istilah parental alienation. Parental alienation biasanya merujuk pada dinamika khusus, terutama dalam konflik keluarga, ketika seorang anak mengalami penolakan terhadap salah satu orang tua sebagai akibat dari pengaruh atau perilaku orang tua lainnya. Konsep tersebut merupakan isu yang lebih spesifik dan kontroversial, sehingga tidak tepat digunakan sebagai sinonim untuk setiap bentuk keterasingan anak dalam keluarga (Johnston, 2003).

Anak yang secara emosional semakin jauh dari keluarga karena hubungan keluarga tidak lagi memberinya rasa keterhubungan. Prosesnya dapat berlangsung perlahan, dimulai dari anak mengalami konflik, ia mencoba bercerita, namun respons yang diterimanya tidak sesuai dengan kebutuhannya, kemudian ia mencoba kembali dan pengalaman serupa berulang. Akhirnya, ia berhenti mencoba, dan pada titik tertentu, anak mungkin tidak lagi marah karena tidak didengarkan, melainkan ia hanya tidak lagi berharap untuk didengarkan.

Ketika Anak Menemukan “Rumah” di Tempat Lain

Manusia memiliki kebutuhan untuk merasa diterima dan memiliki hubungan yang bermakna. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dalam keluarga, anak dapat mencari ruang keterhubungan di luar rumah. Teman sebaya, guru, komunitas, maupun ruang digital dapat menjadi tempat anak menemukan pengalaman didengar dan diterima yang sebelumnya tidak ia rasakan di rumah. 

Hal tersebut tidak otomatis berarti lingkungan luar keluarga menjadi penyebab masalah. Sebaliknya, hubungan sosial yang sehat dapat menjadi sumber dukungan penting bagi perkembangan anak. Persoalannya muncul ketika keluarga justru kehilangan posisi sebagai salah satu tempat utama bagi anak untuk mencari dukungan. 

Penelitian di Indonesia terhadap remaja yang merantau juga menunjukkan bahwa keberfungsian keluarga berkaitan dengan kesepian; semakin baik keberfungsian keluarga, semakin rendah kesepian yang dilaporkan remaja (Magdalena et al., 2023). Artinya, jarak fisik bukan satu-satunya persoalan. Seorang anak dapat tinggal sangat dekat dengan orang tuanya, tetapi tetap mengalami kesepian apabila hubungan emosional di antara mereka tidak berfungsi dengan baik. 

Anak yang Terlihat “Mandiri” Belum Tentu Tidak Membutuhkan Orang Tua 

Ada paradoks yang perlu kita pahami bersama. Kita sering memuji anak yang tidak banyak menuntut, jarang mengeluh, mampu menyelesaikan masalah sendiri, dan tidak banyak meminta bantuan. Kita menyebutnya mandiri. Padahal, sebagian anak mungkin belajar menjadi “mandiri” bukan karena kebutuhan dukungannya sudah terpenuhi, tetapi karena ia merasa tidak memiliki tempat yang aman untuk meminta bantuan. Karena itu, kemandirian anak perlu dibedakan dari ketidakmauan meminta pertolongan akibat hilangnya kepercayaan terhadap lingkungan terdekatnya. 

Penelitian mengenai pengalaman masa kanak-kanak yang merugikan di Indonesia juga menunjukkan pentingnya keberfungsian keluarga. Dalam studi terhadap remaja laki-laki usia 10–17 tahun menggunakan data I-NAMHS, keberfungsian keluarga diteliti sebagai faktor yang dapat memoderasi hubungan antara adverse childhood experiences dan masalah perilaku (Subekti & Wilopo, 2025). Temuan semacam ini memperkuat satu pesan bahwa, “Keluarga bukan hanya konteks tempat masalah terjadi, tetapi juga dapat menjadi faktor perlindungan bagi anak. “

Jangan Hanya Bertanya, “Mengapa Anak Berubah?”

Barangkali pertanyaan tersebut perlu diperluas menjadi, “Apa yang terjadi dalam hubungan kami sebelum anak saya berubah?” Perubahan perilaku anak seharusnya tidak selalu dibaca sebagai pembangkangan. Ia dapat menjadi kesempatan untuk memeriksa kembali kualitas hubungan antara anak dan orang tua. 

KPAI sendiri menekankan pentingnya penguatan komunikasi sehat dalam keluarga serta pengasuhan positif tanpa kekerasan sebagai bagian dari upaya perlindungan anak (KPAI, 2026b). Maka, solusi terhadap alienasi anak tidak cukup dengan memerintahkan anak agar lebih terbuka. 

Orang tua juga perlu menciptakan kondisi yang membuat keterbukaan itu terasa aman. Mendengarkan tanpa segera menghakimi. Mengakui kesalahan ketika orang tua keliru. Tidak menggunakan cerita pribadi anak sebagai senjata ketika terjadi konflik. Memberikan ruang bagi anak untuk memiliki pendapat. Dan yang tidak kalah penting, belajar membedakan antara mendisiplinkan perilaku anak dan menolak emosi anak. Anak boleh salah tanpa harus merasa bahwa dirinya ditolak. Anak boleh marah tanpa harus kehilangan hak untuk didengar. Anak boleh berbeda pendapat tanpa harus merasa kehilangan tempat di dalam keluarga.

Rumah Seharusnya Menjadi Tempat untuk Kembali

Pada akhirnya, persoalan alienasi anak bukan hanya tentang anak yang menjauh. Ia juga merupakan pertanyaan tentang kualitas rumah yang ditinggalkan secara emosional oleh anak tersebut. KPAI menyebut keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama bagi tumbuh kembang anak serta menekankan pentingnya keluarga yang aman, suportif, dan responsif terhadap kebutuhan anak (KPAI, 2026c). Karena itu, ketika seorang anak mulai menjauh, kita tidak seharusnya buru-buru bertanya, “Mengapa dia berubah?” Mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah, “Kapan terakhir kali anak merasa benar-benar didengar di rumah?

Sebab tidak semua anak yang menjauh sedang mencari kebebasan dari keluarganya. Sebagian mungkin sedang mencari tempat di mana mereka dapat menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi. Dan ironi terbesar dari keluarga disfungsional adalah ketika anak akhirnya menemukan rasa diterima di luar rumah, sementara rumah yang seharusnya menjadi tempat pertama untuk menemukannya justru menjadi tempat terakhir yang ia datangi. Anak tidak seharusnya hanya memiliki rumah untuk ditinggali. Ia membutuhkan rumah yang membuatnya merasa memiliki tempat untuk kembali.

Article by: Salsabilla Nuranisa Wahyudi, S.Psi (Mahasiswa Magister Psikologi, Universitas Airlangga).

Referensi:

Cendra, A. (2012). Hubungan antara keberfungsian keluarga dan kesepian pada remaja Indonesia [Skripsi, Universitas Indonesia]. 

Hidayati, D. S. (2018). Family function dan loneliness pada remaja dengan orang tua tunggal. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 6(1), 54-62. https://doi.org/10.22219/jipt.v6i1.5432.

Johnston, J. R. (2003). Parental alignments and rejection: An empirical study of alienation in children of divorce. Journal of the American Academy of Psychiatry and the Law, 31(2), 158-170. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12875493/.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia. (2026a, May 18). KPAI gelar konferensi pers: Darurat perlindungan anak dalam laporan pengawasan Januari-April 2026. https://www.kpai.go.id/publikasi/kpai-gelar-konf-pers-darurat-perlindungan-anak.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia. (2026b). Laporan kelembagaan KPAI Januari-April 2026. https://www.kpai.go.id/files/2026/05/LAPORAN-KELEMBAGAAN-KPAI-JAN-MAR-2026-2.pdf?.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia. (2026c). KPAI dan PUSHAM Universitas Surabaya bahas tantangan perlindungan anak dalam dialog akademik. https://www.kpai.go.id/publikasi/kpai-dan-pusham-universitas-surabaya-bahas-tantangan-perlindungan-anak-dalam-dialog-akademik.

Wu, X., Zhang L., Yang, R., Zhu, T., Xiang, M., & Wu, G.(2022). Parents can't see me, can peers see me? Parental phubbing and adolescents' peer alienation via the mediating role of parental rejection. Child Abuse & Neglect, 132, 105806. https://doi.org/10.1016/j.chiabu.2022.105806.

Magdalena, S. M., Sudagijono, J. S., & Mulya, H. C. (2023). Hubungan family functioning dan kesepian pada mahasiswa perantau. EXPERIENTIA: Jurnal Psikologi Indonesia, 11(1). https://journal.ukwms.ac.id/index.php/EXPERIENTIA/article/view/4604?.

Subekti, H., & Wilopo, S. A. (2025). The impact of family function as a moderating variable on the association between adverse childhood experiences (ACEs) and behavioral problems in male adolescents aged 10-17 years in Indonesia. International Journal of Adolescent Medicine and Health. https://doi.org/10.1515/ijamh-2024-0184.

Zemp, M., Bodenmann, G., & Cummings, E. M. (2016). The significance of interparental conflict for children: A review of current research. European Psychologist. https://link.springer.com/article/10.1007/s12144-021-02537-2.

Artikel Lainnya

Butuh konsultasi?

Tim psikolog kami siap membantu perjalanan Anda dan buah hati menuju kesejahteraan emosional yang lebih baik.