Saat “Kurang Iman” Menjadi Jawaban atas Penderitaan

psychology
Admin Zalfa
10 September 2026timer 5 Menit Baca
Saat “Kurang Iman” Menjadi Jawaban atas Penderitaan

*Peringatan pemicu: Fenomena bunuh diri

Setiap kali kabar tentang seseorang yang meninggal karena bunuh diri muncul, masyarakat kembali dihadapkan pada pertanyaan yang sama, mengapa tidak ada yang mengetahui bahwa ia sedang mengalami masalah? Mengapa keluarga, teman, atau orang-orang di sekitarnya tidak menyadarinya? Pertanyaan tersebut penting, tetapi ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting yaitu, apakah kita selama ini telah menciptakan lingkungan yang cukup aman bagi seseorang untuk mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja? 

Pertanyaan itu menjadi semakin relevan karena bunuh diri bukan persoalan yang kecil. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 720.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun di seluruh dunia, dan bunuh diri menjadi salah satu penyebab utama kematian pada kelompok usia 15-29 tahun. WHO juga menegaskan bahwa bunuh diri tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, budaya, biologis, psikologis, dan lingkungan sepanjang kehidupan seseorang (World Health Organization, 2026).

Indonesia pun tidak berada di luar persoalan tersebut. Estimasi WHO menunjukkan angka kematian akibat bunuh diri Indonesia sebesar 1,2 per 100.000 penduduk pada 2021, sementara data WHO yang lebih baru menampilkan estimasi sekitar 1,6 per 100.000 penduduk, perbedaan angka ini perlu dibaca hati-hati karena kualitas pencatatan kematian akibat bunuh diri di Indonesia masih menjadi persoalan.

Bahkan, persoalan Indonesia bukan hanya mengenai berapa banyak orang yang meninggal karena bunuh diri, tetapi juga seberapa banyak kasus yang tidak tercatat dengan baik. Penelitian mengenai profil statistik bunuh diri Indonesia menunjukkan adanya persoalan serius dalam kualitas dan konsistensi data, sedangkan analisis situasi untuk strategi pencegahan bunuh diri nasional menemukan bahwa keluarga terkadang menyembunyikan penyebab kematian karena stigma dan rasa malu. Peneliti bahkan memperkirakan tingkat underreporting bunuh diri di Indonesia sangat tinggi (Onie et al., 2024). 

Artinya, angka yang kita lihat mungkin belum sepenuhnya menggambarkan persoalan yang sebenarnya. Namun, di balik persoalan statistik tersebut, ada persoalan sosial yang lebih sulit diukur yaitu, “stigma”. 

“Kurang iman” dan Penderitaan yang Tidak Terlihat 

Kesehatan mental masih kerap dibicarakan dengan bahasa moral. Seseorang yang mengalami tekanan psikologis dapat dianggap kurang bersyukur. Seseorang yang mengalami kecemasan dapat dinilai terlalu banyak berpikir. Seseorang yang merasa putus asa dapat dinasihati untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Bahkan, seseorang yang sedang mengalami krisis psikologis dapat merasa bahwa dirinya gagal menjadi pribadi yang seharusnya kuat dan beriman.

Nasihat untuk berdoa, bersabar, dan mendekatkan diri kepada Tuhan tentu tidak selalu keliru. Agama dapat menjadi sumber makna, harapan, dukungan sosial, dan coping ketika seseorang menghadapi penderitaan. Meta-analisis terhadap penelitian mengenai religiusitas dan bunuh diri bahkan menemukan adanya hubungan protektif antara religiusitas dan kematian akibat bunuh diri, meskipun hubungan tersebut berbeda menurut konteks sosial dan budaya (Wu et al., 2015). 

Masalahnya muncul ketika bahasa spiritual tidak lagi digunakan untuk menemani penderitaan, tetapi untuk menjelaskan penderitaan secara simplistis. “Saya sedang mengalami depresi” dapat berubah menjadi “Saya kurang bersyukur”, “Saya membutuhkan bantuan psikologis” dapat berubah menjadi “Saya kurang dekat dengan Tuhan”, “Saya sudah tidak sanggup” dapat dijawab dengan “Kamu harus lebih kuat.” 

Pada titik itu, penderitaan psikologis tidak lagi hanya dipandang sebagai pengalaman yang membutuhkan pemahaman, tetapi sebagai sesuatu yang seolah-olah menunjukkan kekurangan moral atau spiritual seseorang. 

Penelitian meta-analysis mengenai hubungan agama dengan ide bunuh diri,  rencana bunuh diri, upaya bunuh diri, dan kematian karena bunuh diri, menemukan bahwa agama memiliki posisi yang kompleks bahwa keyakinan religius dapat mencegah seseorang dari perilaku bunuh diri, tetapi keyakinan yang sama juga dapat menjadi hambatan untuk mencari bantuan ketika bunuh diri dipandang terutama melalui kerangka moral dan dosa (Poororajal et al., 2022). Di sinilah kita perlu membedakan antara agama sebagai sumber perlindungan dan stigma yang dibungkus dalam bahasa agama. 

Indonesia Tidak Hanya Menghadapi Masalah Bunuh Diri, tetapi Juga Masalah Diam

Persoalan menjadi lebih serius karena kesehatan mental tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang dapat tetap bersekolah, bekerja, berinteraksi dengan keluarga, beribadah, dan mengunggah kehidupan sehari-hari di media sosial, sementara pada saat yang sama mengalami penderitaan psikologis yang tidak diketahui orang lain. 

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa prevalensi depresi pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 1,4%, dengan proporsi tertinggi pada kelompok usia 15–24 tahun sebesar 2%. Pada kelompok anak muda berusia 15–24 tahun yang mengalami depresi, 61% dilaporkan pernah memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup dalam satu bulan terakhir, dibandingkan 1,7% pada anak muda yang tidak mengalami depresi (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2025).

Angka tersebut seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Bukan untuk membuat masyarakat panik, melainkan untuk menyadari bahwa penderitaan psikologis pada anak muda bukan sesuatu yang dapat diselesaikan hanya dengan meminta mereka untuk “lebih kuat”. 

Persoalan lain adalah bahwa pikiran untuk mengakhiri hidup tidak selalu berarti seseorang akan melakukan bunuh diri. Namun, keberadaannya merupakan tanda penderitaan psikologis yang perlu diperhatikan dan mendapatkan respons yang tepat. WHO sendiri menekankan bahwa bunuh diri bersifat multifaktorial dan bahwa upaya pencegahan membutuhkan pendekatan yang melibatkan individu, keluarga, komunitas, serta sistem kesehatan (WHO, 2026). Karena itu, respons pertama terhadap seseorang yang sedang menderita seharusnya bukan mencari siapa yang harus disalahkan. Respons pertama seharusnya adalah mendengarkan. 

Stigma Membuat Seseorang Belajar untuk Menyembunyikan Rasa Sakitnya 

Stigma tidak hanya datang dari masyarakat. Ia dapat menjadi bagian dari cara seseorang memandang dirinya sendiri. Seseorang yang berulang kali mendengar bahwa masalah kesehatan mental adalah tanda kelemahan dapat mulai merasa malu atas kondisinya. Ia mungkin takut dianggap berbeda, takut mengecewakan keluarga, atau takut dinilai tidak cukup kuat. Pada akhirnya, ia memilih untuk tidak bercerita. 

Kajian terhadap 100 penelitian mengenai stigma yang berkaitan dengan bunuh diri menemukan bahwa stigma bunuh diri paling sering berkaitan dengan kesehatan mental yang lebih buruk, kesulitan dalam proses berduka, dan rendahnya kecenderungan mencari pertolongan (Wyllie et al., 2025). 

Masalah serupa juga ditemukan pada konteks kesehatan mental secara lebih umum di Indonesia. Penelitian Hartini et al., (2018) menunjukkan bahwa stigma terhadap orang dengan masalah kesehatan mental masih ditemukan di masyarakat Indonesia dan bahwa pengetahuan kesehatan mental yang lebih baik berkaitan dengan stigma publik yang lebih rendah. 

Jika stigma membuat seseorang takut mengakui bahwa dirinya sedang mengalami masalah, maka persoalannya bukan lagi sekadar perasaan tersinggung akibat sebuah kalimat. Stigma dapat menjadi hambatan menuju pertolongan. Tinjauan sistematis terhadap negara-negara ASEAN juga menunjukkan bahwa hambatan mencari bantuan psikologis mencakup faktor sosial dan budaya, stigma, faktor religius, rendahnya literasi kesehatan mental, kesulitan mengungkapkan masalah, serta keterbatasan akses dan biaya layanan (Bartholomew et al., 2025). Dengan kata lain, seseorang mungkin bukan tidak ingin mendapatkan bantuan. Ia mungkin tidak merasa aman untuk meminta bantuan. 

Kita Perlu Berhenti Mempertentangkan Iman dan Psikologi 

Ada anggapan bahwa orang yang memiliki iman kuat seharusnya mampu menghadapi semua persoalan hidupnya sendiri. Anggapan tersebut perlu dikaji kembali. Seseorang dapat memiliki keyakinan agama yang kuat dan tetap mengalami depresi. Seseorang dapat rajin beribadah dan tetap mengalami kecemasan. Seseorang dapat percaya kepada Tuhan dan tetap membutuhkan bantuan profesional.

Penelitian pada hampir 10.000 Muslim dari 16 negara Arab menunjukkan bahwa religiusitas yang lebih tinggi berkaitan dengan sikap mencari bantuan yang lebih positif ketika stigma terhadap gangguan mental rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa agama tidak secara otomatis menjadi penghalang pencarian bantuan, stigma terhadap gangguan mental justru menjadi faktor penting yang menentukan hubungan tersebut (Fekih-Romdhane et al., 2023). 

Temuan tersebut memberikan pelajaran penting bagi masyarakat Indonesia. Kita tidak perlu memilih antara doa dan psikolog. Seseorang dapat berdoa sekaligus berkonsultasi dengan psikolog. Seseorang dapat memperoleh ketenangan melalui ibadah sekaligus membutuhkan intervensi profesional. Seseorang dapat memperoleh dukungan dari komunitas keagamaan sekaligus membutuhkan layanan kesehatan mental. Yang harus dihindari adalah menjadikan salah satunya sebagai alasan untuk meniadakan yang lain. 

Pemuka Agama Dapat Menjadi Bagian dari Solusi 

Jika agama memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, maka upaya pencegahan bunuh diri juga tidak seharusnya mengabaikan komunitas keagamaan. Penelitian mengenai strategi pencegahan bunuh diri di Indonesia secara eksplisit merekomendasikan keterlibatan organisasi dan pemimpin agama dalam mengurangi stigma, membuka ruang pembicaraan mengenai kesehatan mental, serta mendorong pencarian bantuan profesional (Onie et al., 2024). 

Artinya, pemuka agama tidak harus menjadi pengganti psikolog atau tenaga kesehatan mental. Perannya dapat menjadi lebih sederhana tetapi sangat berarti, menciptakan ruang yang aman untuk berbicara. 

Alih-alih mengatakan, “Kamu kurang iman,” mungkin pesan yang lebih menyelamatkan adalah, “Penderitaanmu tidak membuatmu menjadi manusia yang buruk. Mari kita cari pertolongan bersama.” Alih-alih menganggap konsultasi psikologis sebagai tanda kelemahan, komunitas keagamaan dapat membantu menormalisasi pencarian bantuan ketika seseorang membutuhkannya. 

Sebab, orang yang sedang mengalami krisis tidak selalu membutuhkan jawaban teologis yang panjang. Terkadang, ia hanya membutuhkan seseorang yang tidak membuatnya merasa bersalah karena sedang terluka. 

Kita Perlu Mengubah Cara Berbicara tentang Bunuh Diri

Pencegahan bunuh diri tidak dapat dilakukan hanya dengan mengajak seseorang bertahan ketika ia sudah berada dalam krisis. Pencegahan juga membutuhkan perubahan lingkungan sosial yang membuat seseorang berani berbicara jauh sebelum kondisinya memburuk. 

Di Indonesia, kebutuhan tersebut semakin penting karena data bunuh diri masih menghadapi persoalan kualitas dan pelaporan, sementara stigma membuat sebagian keluarga memilih menyembunyikan penyebab kematian (Onie et al., 2024). Karena itu, perubahan narasi harus dimulai dari percakapan sehari-hari. 

Kita perlu mengganti “kamu harus kuat” menjadi “kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian”. Kita perlu mengganti “kurang iman” menjadi “apa yang sedang kamu alami?” Perubahan kalimat mungkin terlihat sederhana. Namun, di tengah masyarakat yang masih menghadapi stigma, kalimat tersebut dapat menentukan apakah seseorang memilih untuk bercerita atau kembali diam. 

Pada akhirnya, agama tidak perlu ditempatkan sebagai lawan dari kesehatan mental. Justru, agama dapat menjadi salah satu kekuatan sosial yang membantu menciptakan lingkungan yang lebih penuh kasih, tidak menghakimi, dan terbuka terhadap pertolongan. Kita hanya perlu memastikan bahwa ketika seseorang datang membawa luka, kita tidak buru-buru menanyakan seberapa kuat imannya. 

Ada baiknya jika, kita tanyakan terlebih dahulu apakah ia baik-baik saja. Sebab, seseorang tidak menjadi kurang beriman hanya karena sedang menderita. Dan meminta pertolongan bukan tanda bahwa seseorang telah kehilangan harapan. Bisa jadi, meminta pertolongan adalah salah satu bentuk keberanian untuk mempertahankan harapan itu. 

Article by: Salsabilla Nuranisa Wahyudi, S.Psi (Mahasiswa Magister Psikologi, Universitas Airlangga).

Referensi:

Syafitri, D. U., Mawaddah S., Lau, J. Y. F., Brown, J. S. L. (2026). Barriers and facilitators of psychological help-seeking of people with depression, anxiety, and stress symptoms among ASEAN countries: A systematic review. Int J Soc Psychiatry, 22(3), 419-438. https://doi.org/10.1177/00207640251367289.

Fekih-Romdhane, F., Daher-Nashif, S., Stambouli, M., Alhuwailah, A., Helmy, M., Shuwiekh, H. A. M., Mohamed Lemine, C. M. F., Radwan, E., Saquib, J., Saquib, N., Fawaz, M., Zarrouq, B., Naser, A. Y., Obeid, S., Saleh, M., Haider, S., Miloud, L., Badrasawi, M., Hamdan-Mansour, A., Barbato, M., … Hallit, S. (2023). Mental illness stigma as a moderator in the relationship between religiosity and help-seeking attitudes among Muslims from 16 Arab countries. BMC public health, 23(1), 1671. https://doi.org/10.1186/s12889-023-16622-7.

Hartini, N., Fardana, N. A., Ariana, A. D., & Wardana, N. D. (2018). Stigma toward people with mental health problems in Indonesia. Psychology Research and Behavior Management, 11, 535–541. https://doi.org/10.2147/PRBM.S175251.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Laporan kinerja pelayanan kesehatan kelompok rentan tahun anggaran 2025. Direktorat Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas. https://kesprimkom.kemkes.go.id/assets/uploads/contents/others/final_LAKIP_PK_YANKES_RENTAN_TA_2025.pdf.

Onie, S., Usman, Y., Widyastuti, R., Lusiana, M., Angkasawati, T. J., Musadad, D. A., Nilam, J., Vina, A., Kamsurya, R., Batterham, P., Arya, V., Pirkis, J., & Larsen, M. (2024). Indonesia's first suicide statistics profile: an analysis of suicide and attempt rates, underreporting, geographic distribution, gender, method, and rurality. The Lancet regional health. Southeast Asia, 22, 100368. https://doi.org/10.1016/j.lansea.2024.100368.

Poorolajal, J., Goudarzi, M., Gohari-Ensaf, F., & Darvishi, N. (2022). Relationship of religion with suicidal ideation, suicide plan, suicide attempt, and suicide death: a meta-analysis. Journal of research in health sciences, 22(1), e00537. https://doi.org/10.34172/jrhs.2022.72.

Wu, A., Wang, J. Y., & Jia, C. X. (2015). Religion and completed suicide: A meta-analysis. PloS one, 10(6) https://doi.org/10.1371/journal.pone.0131715.

World Health Organization. (2025). Suicide worldwide in 2021: Global health estimates. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240110069.

World Health Organization. (2026). Suicide. World Health Organization. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/suicide.

Wyllie, J. M., Robb, K. A., Sandford, D., Etherson, M. E., Belkadi, N., & O'Connor, R. C. (2025). Suicide-related stigma and its relationship with help-seeking, mental health, suicidality and grief: Scoping review. BJPsych Open, 11(2), e60. https://doi.org/10.1192/bjo.2024.857.

Artikel Lainnya

Butuh konsultasi?

Tim psikolog kami siap membantu perjalanan Anda dan buah hati menuju kesejahteraan emosional yang lebih baik.