Menolak Menjadi Domba: Pentingnya Menjaga Kewarasan di Tengah Arus Viral

psychology
Admin Zalfa
•30 September 2026•timer 5 Menit Baca
Menolak Menjadi Domba: Pentingnya Menjaga Kewarasan di Tengah Arus Viral

Sesuatu yang viral di media sosial sering kali terasa seperti sesuatu yang benar. Ribuan komentar mengatakan hal yang sama. Jutaan orang menonton video yang sama. Sebuah tagar memenuhi linimasa. Pada akhirnya, muncul kesan bahwa "semua orang" sedang membicarakannya. Lalu tanpa sadar, kita ikut berkomentar, membagikan, bahkan menghakimi sebelum sempat bertanya, benarkah?

Fenomena semacam ini dapat dipahami melalui konsep herd mentality atau perilaku ikut-ikutan, ketika individu cenderung mengikuti tindakan atau keyakinan kelompok, terutama ketika merasa tidak memiliki informasi yang cukup untuk menentukan pilihan sendiri. Dalam konteks media sosial, persoalannya menjadi lebih kompleks karena apa yang tampak sebagai pendapat mayoritas belum tentu benar-benar mewakili mayoritas masyarakat.

Penelitian Robertson et al., (2024) menunjukkan bahwa media sosial dapat mendistorsi persepsi mengenai norma sosial. Percakapan daring sering kali lebih didominasi oleh kelompok kecil yang sangat vokal, sehingga pengguna lain dapat mengira bahwa pandangan tersebut jauh lebih umum daripada kenyataannya.

Indonesia dan Budaya Ikut Ramai

Indonesia telah berkali-kali memperlihatkan bagaimana mekanisme tersebut bekerja. Pada Agustus 2026, misalnya, Kementerian Komunikasi dan Digital memperingatkan mengenai beredarnya video lama dan materi yang telah diedit terkait demonstrasi yang disebarkan seolah-olah merupakan kejadian terbaru. Salah satu video bahkan telah ditonton ratusan ribu kali sebelum diverifikasi sebagai informasi dengan konteks yang menyesatkan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kecepatan penyebaran informasi dapat menjadi masalah ketika tidak disertai kemampuan memeriksa kebenarannya. Informasi yang telah mendapatkan ribuan likes, komentar, dan shares dapat menciptakan kesan bahwa informasi tersebut telah "dikonfirmasi" oleh banyak orang.

Padahal, jumlah likes bukan fakta. Jumlah shares bukan bukti. Viral bukan sinonim dari benar. Zhang et al., (2024) menemukan bahwa kecenderungan herding berkaitan dengan perilaku membagikan informasi yang belum terverifikasi. Ketidakpastian dan persepsi bahwa suatu situasi sangat serius dapat semakin mendorong seseorang mengikuti perilaku orang lain. Dengan kata lain, ketika situasi terasa membingungkan, kita justru dapat semakin mudah melihat kerumunan sebagai kompas.

Mengapa Kita Mudah Mengikuti Kerumunan?

Manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk menjadi bagian dari kelompok. Kita mencari penerimaan, keamanan, dan kepastian melalui interaksi sosial. Karena itu, mengikuti apa yang dilakukan orang lain tidak selalu merupakan tanda bahwa seseorang tidak mampu berpikir. Masalah muncul ketika kebutuhan untuk diterima membuat penilaian pribadi dikalahkan oleh tekanan kelompok.

Di media sosial, proses ini dapat berlangsung jauh lebih cepat. Ketika seseorang melihat ribuan komentar yang mengecam seseorang, ia mungkin merasa bahwa orang tersebut memang pantas dikecam meskipun belum mengetahui konteks lengkapnya. Ketika sebuah opini terus muncul di timeline, opini tersebut dapat terasa semakin familiar dan akhirnya dianggap semakin benar.

Situasi tersebut juga dapat berkembang menjadi group polarization. Smith et al., (2024) menjelaskan bahwa interaksi di antara orang-orang yang memiliki pandangan serupa dapat memperkuat posisi kelompok dan mendorongnya menjadi semakin ekstrem. Akibatnya, ruang digital dapat berubah menjadi arena "kami versus mereka". Yang berbeda dianggap bodoh. Yang mempertanyakan dianggap tidak berpihak. Yang meminta bukti dianggap mengganggu suasana. Perlahan, loyalitas kepada kelompok dapat mengalahkan komitmen terhadap kebenaran.

Ketika Berpikir Kritis Menjadi Tindakan Perlawanan

Kita sering mengira bahwa berpikir kritis berarti mampu berdebat. Padahal, terkadang berpikir kritis justru berarti berani tidak ikut berbicara ketika informasi belum cukup. Berani mengatakan, "Saya belum tahu." Berani membaca sumber lain. Berani memeriksa konteks. Berani mengubah pendapat ketika menemukan fakta baru.

Sikap tersebut menjadi semakin penting karena arus informasi di media sosial bergerak jauh lebih cepat daripada proses verifikasi. Penelitian Prike et al. (2024) menunjukkan bahwa informasi mengenai kredibilitas sumber dan norma sosial yang mendorong perilaku bermedia secara bertanggung jawab dapat membantu meningkatkan kemampuan membedakan informasi benar dan salah serta mengurangi keterlibatan dengan informasi palsu.

Karena itu, berpikir kritis bukan berarti harus selalu berseberangan dengan mayoritas. Tidak semua pendapat mayoritas salah, sebagaimana tidak semua pendapat minoritas benar. Menolak herd mentality berarti mempertahankan kemampuan untuk memeriksa informasi sebelum mempercayainya dan mempertimbangkan konsekuensi sebelum ikut menyebarkannya.

Menolak Menjadi Domba

Menolak menjadi domba bukan berarti harus selalu berbeda dari orang lain. Menjadi independen bukan berarti menolak semua pendapat kelompok. Justru, kemandirian berpikir berarti mampu menentukan sikap berdasarkan alasan dan bukti, bukan semata-mata karena "semua orang juga berpikir begitu". Sebelum ikut meramaikan sesuatu yang sedang viral, mungkin kita perlu mengajukan tiga pertanyaan sederhana, apa sumbernya? Apa buktinya? Dan mengapa saya mempercayainya? 

Tiga pertanyaan tersebut terlihat sederhana. Namun, di tengah arus informasi yang bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memverifikasinya, kemampuan untuk berhenti sejenak justru merupakan bentuk kewarasan. Sebab menjadi bagian dari kerumunan memang mudah. Yang sulit adalah tetap menjadi manusia yang mampu berpikir ketika seluruh kerumunan sedang berlari.

Article by: Salsabilla Nuranisa Wahyudi, S.Psi (Mahasiswa Magister Psikologi, Universitas Airlangga).

Referensi:

Effendi, E. (2023). User behaviour and hoax information on social media case of Indonesia. Jurnal Studi Komunikasi, 7(3), 930–943. https://doi.org/10.25139/jsk.v7i3.7402

Prike, T., Butler, L. H., & Ecker, U. K. H. (2024). Source-credibility information and social norms improve truth discernment and reduce engagement with misinformation online. Scientific Reports, 14, 6900. https://doi.org/10.1038/s41598-024-57560-7

Robertson, C. E., del Rosario, K. S., & Van Bavel, J. J. (2024). Inside the funhouse mirror factory: How social media distorts perceptions of norms. Current Opinion in Psychology, 60, 101918. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2024.101918

Smith, L. G. E., Thomas, E. F., Bliuc, A.-M., & McGarty, C. (2024). Polarization is the psychological foundation of collective engagement. Communications Psychology, 2, 41. https://doi.org/10.1038/s44271-024-00089-2

Zhang, Z., Cheng, Z., Gu, T., & Zhang, Y. (2024). Determinants of users' unverified information sharing on social media platforms: A herding behavior perspective. Acta Psychologica, 248, 104345. https://doi.org/10.1016/j.actpsy.2024.104345

Bagikan artikel ini

Tautan tersalin

Artikel Lainnya

Butuh konsultasi?

Tim psikolog kami siap membantu perjalanan Anda dan buah hati menuju kesejahteraan emosional yang lebih baik.